lpmalmizan – Akhir-akhir ini sebuah tren baru menghiasi halaman TikTok. Platform andalan sejuta umat ini memang kerap kali menjadi wadah merebaknya trend-trend video, sound, ataupun challenge yang menghibur. Tren yang tengah viral kali ini adalah “We Listen We Don’t Judge.” Dari kalimatnya, penamaan tren tersebut berasal dari bahasa Inggris, yang artinya “kami mendengarkan kami tidak menghakimi.”
Dilansir dari idntimes.com, tren ini berawal dari akun TikTok @bccczsv yang menampilkan empat remaja sekolah tengah bergantian mengungkapkan rahasia mereka. Namun, video mereka dihapus karena mendapatkan teguran dari pihak sekolah. Hal itu tidak menyurutkan semangat warganet untuk turut serta membuat konten serupa yang lucu namun tidak bermaksud menyinggung.
Pada intinya, tren ini merupakan wadah bagi orang-orang untuk mengakui rahasia, mengungkapkan kejujuran, dan berekspresi tanpa takut mendapatkan judge atau penghakiman dari orang lain. Di awal, seluruh talent dalam video akan mengucapkan we listen we don’t judge, lalu mereka bergiliran mengakui rahasianya. Yang menjadikan tren ini viral sekaligus menarik perhatian adalah ekspresi orang-orang ketika pertama kali mendengar rahasia-rahasia temannya yang mungkin cukup menggelikan atau bahkan mengejutkan.
Lalu, apa hubungannya dengan teori spiral keheningan? Dan mengapa tren We Listen We Don’t Judge ini disebut bisa mematahkan teori ini?
Menurut Yasir, teori spiral keheningan menjelaskan bahwa individu dengan pendapat minoritas atau berbeda akan dibatasi komunikasinya, dan mereka yang mayoritas akan lebih terbuka dalam menyuarakan pendapatnya. Noelle Neuman juga menyatakan bahwa media akan berfokus pada pandangan mayoritas, dan mengabaikan pandangan minoritas.
Kembali lagi pada tren we listen we don’t judge, orang-orang dalam tren ini sering kali mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak berani mereka ungkapan, karena merasa berbeda dengan pandangan atau aktivitas orang-orang pada umumnya. Seperti seseorang yang mengaku bahwa ia pernah menghabiskan sebuah produk skincare walaupun terasa panas saat dipakai, karena harga produk yang cukup mahal sehingga merasa sangat sayang jika tidak digunakan.
Ketika orang-orang turut serta membuat video dengan tren ini, secara tidak langsung mereka telah mematahkan teori spiral keheningan, bahwa tidak melulu orang-orang dengan pandangan yang berbeda atau minoritas akan dikucilkan atau bahkan dihujat. Dengan we don’t judge, meskipun mungkin dalam hati mereka menghakimi, namun pada akhirnya mereka hanya mendengarkan.
We listen we don’t judge tidak sekedar menjadi tren TikTok yang menumbuhkan euforia baru, namun memiliki makna yang cukup mendalam. Dengan tren ini, seseorang tidak lagi merasa takut atau khawatir untuk mengungkapkan perasaan, pandangan, atau keresahan mereka terhadap suatu hal. Sejenak melalui tren ini, mereka mampu berekspresi tanpa dihakimi.
Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah






