• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Patahkan Teori Spiral Keheningan Lewat Trend “We Listen We Don’t Judge”

Ika Amiliya Nurhidayah by Ika Amiliya Nurhidayah
27 Desember 2024
in Analisis, Esai
0
Ilustrasi: Suara.com

Ilustrasi: Suara.com

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Akhir-akhir ini sebuah tren baru menghiasi halaman TikTok. Platform andalan sejuta umat ini memang kerap kali menjadi wadah merebaknya trend-trend video, sound, ataupun challenge yang menghibur. Tren yang tengah viral kali ini adalah “We Listen We Don’t Judge.” Dari kalimatnya, penamaan tren tersebut berasal dari bahasa Inggris, yang artinya “kami mendengarkan kami tidak menghakimi.”

Dilansir dari idntimes.com, tren ini berawal dari akun TikTok @bccczsv yang menampilkan empat remaja sekolah tengah bergantian mengungkapkan rahasia mereka. Namun, video mereka dihapus karena mendapatkan teguran dari pihak sekolah. Hal itu tidak menyurutkan semangat warganet untuk turut serta membuat konten serupa yang lucu namun tidak bermaksud menyinggung.

Pada intinya, tren ini merupakan wadah bagi orang-orang untuk mengakui rahasia, mengungkapkan kejujuran, dan berekspresi tanpa takut mendapatkan judge atau penghakiman dari orang lain. Di awal, seluruh talent dalam video akan mengucapkan we listen we don’t judge, lalu mereka bergiliran mengakui rahasianya. Yang menjadikan tren ini viral sekaligus menarik perhatian adalah ekspresi orang-orang ketika pertama kali mendengar rahasia-rahasia temannya yang mungkin cukup menggelikan atau bahkan mengejutkan.

Lalu, apa hubungannya dengan teori spiral keheningan? Dan mengapa tren We Listen We Don’t Judge ini disebut bisa mematahkan teori ini?

Menurut Yasir, teori spiral keheningan menjelaskan bahwa individu dengan pendapat minoritas atau berbeda akan dibatasi komunikasinya, dan mereka yang mayoritas akan lebih terbuka dalam menyuarakan pendapatnya. Noelle Neuman juga menyatakan bahwa media akan berfokus pada pandangan mayoritas, dan mengabaikan pandangan minoritas.

Kembali lagi pada tren we listen we don’t judge, orang-orang dalam tren ini sering kali mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak berani mereka ungkapan, karena merasa berbeda dengan pandangan atau aktivitas orang-orang pada umumnya. Seperti seseorang yang mengaku bahwa ia pernah menghabiskan sebuah produk skincare walaupun terasa panas saat dipakai, karena harga produk yang cukup mahal sehingga merasa sangat sayang jika tidak digunakan.

ArtikelTerkait

Rasa Takut, Tantangan Komunikasi, dan Pembentukan Keberanian dalam Presentasi Pertama di Kampus

Fenomena Fear of Missing Out dalam bingkai Iman dan Akal

Jika Kamu Mahasiswa, Cobalah untuk Tidak Pasif

Ketika orang-orang turut serta membuat video dengan tren ini, secara tidak langsung mereka telah mematahkan teori spiral keheningan, bahwa tidak melulu orang-orang dengan pandangan yang berbeda atau minoritas akan dikucilkan atau bahkan dihujat. Dengan we don’t judge, meskipun mungkin dalam hati mereka menghakimi, namun pada akhirnya mereka hanya mendengarkan.

We listen we don’t judge tidak sekedar menjadi tren TikTok yang menumbuhkan euforia baru, namun memiliki makna yang cukup mendalam. Dengan tren ini, seseorang tidak lagi merasa takut atau khawatir untuk mengungkapkan perasaan, pandangan, atau keresahan mereka terhadap suatu hal. Sejenak melalui tren ini, mereka mampu berekspresi tanpa dihakimi.

Penulis: Ika Amiliya Nurhidayah

Tags: esaitrend tiktokWe Listen We Don't Judge
Ika Amiliya Nurhidayah

Ika Amiliya Nurhidayah

Related Posts

Menepis Stigma, Merajut Kesetaraan: Resensi Buku Menjadi Feminis Muslim

Menepis Stigma, Merajut Kesetaraan: Resensi Buku Menjadi Feminis Muslim

21 Juli 2026
Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

17 Juli 2026
Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In