lpmalmizan – Perasaan bersalah dalam sebuah hubungan, bukanlah suatu hal yang buruk. Saat seseorang sadar bahwa dirinya telah menyakiti orang lain, rasa bersalah bisa membuatnya mau minta maaf dan memperbaiki kesalahan.
Tapi bagaimana kalau rasa bersalah itu justru muncul karena kita terus dianggap sebagai penyebab dari setiap masalah? Hal seperti ini kadang tidak langsung terlihat serius.
Tidak selalu ada bentakan atau kata-kata kasar. Bisa saja hanya berupa sikap diam setelah bertengkar, pembicaraan yang selalu berakhir dengan satu pihak meminta maaf, atau ucapan yang membuat kita merasa bahwa perasaan sendiri tidak penting.
Kalau terjadi berulang kali, kita bisa mulai meragukan diri sendiri dan menganggap menjadi pihak yang salah sebagai sesuatu yang biasa dalam hitungan. Dari sisi psikologis, perlakuan emosional yang terus berulang bisa memengaruhi cara seseorang melihat dirinya.
Ketika terus ditempatkan sebagai pihak yang bersalah, seseorang bisa mulai meragukan penilaiannya sendiri dan mengalami tekanan emosional. Lama-kelamaan, ia bahkan bisa kesulitan mempercayai perasaan dan keputusan yang dibuatnya sendiri.
Masalahnya, ketika hal itu berlangsung terus-menerus, seseorang bisa terbiasa menyalahkan dirinya sendiri setiap kali terjadi konflik. Ia akan lebih memilih diam, menahan perasaan, atau mengalah bukan karena masalah sudah selesai, tetapi karena takut keadaan kembali berujung pada dirinya yang terus disalahkan oleh orang lain.
Kekerasan emosional bukan hanya persoalan yang ramai dibicarakan di media sosial. Berdasarkan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, sebanyak 42,64% respons berusia 18-24 tahun melaporkan pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan emosional sebelum berusia 18 tahun.
Bentuknya mencakup dibentak, diancam atau diintimidasi, disebut bodoh atau tidak berguna, dipermalukan, hingga mendapatkan komentar yang merendahkan. Survei ini memang tidak secara langsung mengukur gaslighting atau silent treatment, tetapi data tersebut menunjukkan bahwa kekerasan emosional merupakan pengalaman nyata yang dialami sebagian anak remaja di Indonesia.
Dalam hubungan, perlakuan yang membuat seseorang tertekan bisa muncul dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah silent treatment. Diam setelah bertengkar untuk menenangkan diri tentu berbeda dengan sengaja diam untuk menghukum pasangan.
Kalau diam digunakan supaya pasangan merasa cemas, bersalah, atau akhirnya menyerah dan meminta maaf, perilaku tersebut patut dipertanyakan. Ada juga playing victim, ketika seseorang terus menempatkan dirinya sebagai korban dalam sebuah konflik.
Menempatkan diri sebagai korban bukan berarti seseorang itu benar-benar berada di pihak yang dirugikan, terlebih jika posisi tersebut digunakan untuk menghindari tanggung jawab atau mengalihkan kesalahan.
Akhirnya, orang yang awalnya ingin membicarakan masalah justru merasa bersalah dan berakhir meminta maaf. Konflik pun berubah menjadi soal siapa yang paling pantas dikasihani, bukan bagaimana masalahnya bisa diselesaikan.
Sementara itu, gaslighting punya persoalan yang lebih dalam. Tidak setiap perbedaan pendapat atau perbedaan ingatan berarti gaslighting. Namun, ketika seseorang terus menyangkal pengalaman pasangannya sampai membuatnya meragukan ingatan, perasaan, atau penilaiannya sendiri, hal itu bisa berdampak pada kondisi psikologisnya.
Pola seperti ini bisa membuat seseorang terus mencari kesalahan dalam dirinya sendiri, padahal masalah sebenarnya mungkin berasal dari cara hubungan tersebut berjalan. Hak yang sering luput adalah bagaimana perilaku semacam ini justru dianggap biasa.
“Dia cuma sedang marah.” “Namanya juga pasangan.” “Maklumi saja.”
Memahami kondisi pasangan memang penting, tetapi bukan berarti semua perilaku harus dimaklumi. Kalau setiap tindakan yang menyakitkan selalu dicari alasannya, kita bisa semakin sulit membedakan mana konflik yang masih wajar dan mana pola hubungan yang mulai tidak sehat.
Menurut saya, kita juga perlu berhati-hati dalam menggunakan istilah “toxic”. Tidak setiap orang yang diam sedang melakukan silent treatment.
Tidak setiap orang yang merasa terlalu sedang playing victim. Begitu juga dengan gaslighting, yang tidak bisa digunakan hanya karena dua orang memiliki pandangan atau ingatan yang berbeda.
Kita perlu melihat bagaimana perilaku itu terjadi, apakah terus berulang, dan apa dampaknya bagi orang yang mengalaminya. Dalam hubungan, menyampaikan rasa sakit seharusnya tidak membuat seseorang langsung dianggap sumber masalah.
Sebab, hubungan yang sehat seharusnya membuat kita berani berbicara tanpa takut dihukum hanya karena memiliki perasaan. Konflik memang tidak bisa selalu dihindari, tetapi seharusnya menjadi kesempatan untuk saling memahami, bukan pertandingan untuk menentukan siapa yang paling benar dan siapa yang harus menanggung semua kesalahan.
Rasa bersalah seharusnya membantu seseorang menyadari kesalahan, bukan menjadi alat untuk membuatnya terus merasa bahwa dirinya adalah masalah.
Jadi, ketika kamu terus dibuat merasa bersalah, mungkin pertanyaan yang perlu kamu tanyakan bukan hanya, “Apa aku yang salah?” tetapi juga, “Apakah hubungan ini masih memberiku ruang untuk menjadi diriku sendiri tanpa terus merasa bersalah?”
Penulis: Kambang Muhammad Syahdan
Editor: Achmad Bagas Pranata






