lpmalmizan – Perkembangan teknologi yang begitu pesat telah mendorong peningkatan intensitas penggunaan media sosial di Indonesia. Hal ini kemudian melahirkan fenomena seseorang mengalami “takut tertinggal” atau yang dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FoMO).
Fear of Missing Out adalah kondisi dimana seseorang memiliki perasaan cemas atau takut tertinggal terhadap hal-hal yang sedang terjadi, terutama yang terlihat di media sosial. Mereka merasa perlu terus-menerus terhubung dengan dunia maya agar tidak merasa “ketinggalan” tren, informasi, atau aktivitas yang dilakukan orang lain tanpa memikirkan dampaknya. Fenomena ini sering memunculkan rasa tidak puas terhadap kehidupan sendiri karena terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih menarik di media sosial. Media sosial membentuk pola pikir bahwa eksistensi dan nilai diri seseorang ditentukan oleh seberapa aktif ia tampil di ruang virtual. Akibatnya, banyak yang merasa cemas jika tidak mengikuti tren atau ketinggalan informasi terkini.
Dampak Intensitas penggunaan media sosial dapat mengganggu kondisi jiwa dan kesehatan otak. Kebiasaan scrolling tanpa henti, dapat membentuk pola hidup yang tidak disadar. Perhatian terus tertuju pada kehidupan orang lain, sementara waktu untuk merenungi kehidupan sendiri semakin terpinggirkan. Dalam situasi ini, seseorang cenderung lebih sibuk membandingkan diri hingga akhirnya merasa iri.
Secara ilmiah, rangsangan dari media sosial termasuk notifikasi dapat memicu pelepasan dopamin di otak, zat kimia yang menimbulkan rasa senang dan candu. Jika berlangsung terus-menerus, dapat menyebabkan kecemasan kronis dan ketergantungan. Hal ini menjadi tantangan eksistensial, jika tidak disikapi dengan bijak, manusia akan kehilangan arah dan makna hidup yang utuh. Jadi, bagaimana seharusnya kita merespons fenomena ini dalam bingkai iman dan akal?
Apakah hidup hanya untuk mencari validasi hingga kehilangan ketenangan hati? Apa yang harus dipegang sebagai pedoman menghadapi arus fenomena ini?
Penelitian Aldi Nugraha (2025) menyebutkan, Indonesia menempati posisi pertama di Asia Tenggara, sekaligus posisi keempat dengan jumlah pengguna media sosial terbanyak di dunia yakni sebanyak 167 juta pengguna. Di lansir dari RRI.co.id oleh Andreas (2024), frekuensi penggunaan media sosial masyarakat indonesia rata-rata menghabiskan 3 jam 14 menit per hari dan 81% mengaksesnya setiap hari. Mereka merasa kosong jika tidak mengakses media sosial. Inilah mengapa banyak anak muda merasa gelisah, tidak fokus, atau cepat stres jika tak membuka ponsel dalam beberapa jam.
Fenomena ini sangat rentan dialami oleh generasi muda, khususnya Generasi Z dan milenial. Mereka merupakan pengguna aktif media sosial yang menjadikan platform digital sebagai ruang utama berinteraksi dan mengekspresikan diri. Saat seseorang mendapatkan notifikasi pesan masuk, likes, atau story baru, otak melepaskan dopamin yang menimbulkan rasa puas sesaat. Namun, jika terjadi terus-menerus, otak bisa mengalami apa yang disebut dopamin loop, yaitu kecanduan terhadap sensasi menyenangkan itu. Kondisi tersebut dapat menurunkan sensitivitas otak terhadap dopamin itu sendiri.
Dalam perspektif Islam, akal adalah anugerah yang membedakan manusia dari makhluk lain. Peran akal dalam menghadapi godaan dunia maya sangatlah penting. Ia berfungsi sebagai arah dalam menentukan mana yang patut diikuti dan mana yang perlu diabaikan. Maka Fear of Missing Out jika tidak diwaspadai bisa saja menyesatkan tujuan hidup seseorang itu sendiri.
FoMO merupakan cerminan hilangnya kesadaran spiritual, karena manusia lupa bahwa tidak semua yang terlihat menarik di media adalah kebaikan yang hakiki. Namun, di sinilah spiritualitas mengambil peran penting. Jika akal mengarahkan, maka iman sebagai kendali memberi kita sebuah makna. Dalam Islam, ketenangan hati bukan diperoleh dari validasi orang lain, melainkan kedekatan kita dengan Allah. Bahkan dalam firman-Nya turut mengingatkan bahwa ketenangan hati bukan bersumber dari dunia yang riuh: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. (QS. Ar-Ra’d:28).
Hilangnya ketenangan hati juga disebabkan karena terlalu sibuk membandingkan diri dan iri hati. Al-Qur’an mengajarkan untuk tidak iri terhadap apa yang dimiliki orang lain: “Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain” (QS An-Nisa: 32).
Menyikapi arus fenomena ini dengan menggunakan akal dan iman sebagai alat kendali, menjadikan kita tidak mudah terpengaruhi. Orang yang imannya kuat akan menyadari bahwa rezeki, kebermaknaan hidup, dan kemuliaan diri tidak ditentukan oleh validasi orang lain atau eksistensi di media sosial, melainkan oleh kedekatannya dengan Allah.
Akal dalam Islam adalah alat untuk merenung, memilah mana yang bermanfaat dan mana yang merusak. Akal yang sehat mestinya mendorong manusia untuk menggunakan teknologi secara bijak, bukan membiarkan diri dikendalikan teknologi. Oleh karena itu, jika tidak menyelaraskan iman dan akal sebagai pedoman, akan menjauhkan seseorang dari ketenangan batin dan makna hidup yang utuh.
Jika terus dibiarkan, fenomena ini akan menggerus ketenangan batin dan menganggap nilai hidup hanya menjadi seberapa banyak diakui. Di sinilah pentingnya menghadirkan kesadaran bahwa iman dan akal harus menjadi fondasi dalam berinteraksi di dunia maya. Mahasiswa maupun kaum muda sebagai agen perubahan memiliki peran dan tanggung jawab tersebut. Mereka perlu dilatih untuk kritis menghadapi berbagai tantangan termasuk dengan menyelaraskan iman dan akal sebagai pedoman.
Kurikulum pendidikan juga semestinya menyisipkan keterpaduan literasi digital dan etika Qur’ani sebagai bekal generasi Indonesia. Dan tentu, tanggung jawab ini bukan hanya milik generasi muda, melainkan kita semua untuk memutus rantai FoMO dan membangun budaya digital yang sadar, terarah, dan bermakna.
Penulis: Diyanatul Kumla
Editor: Ika Amiliya Nurhidayah






