• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Minim Partisipasi, Pemilwa jadi Warisan Kaburnya Demokrasi Kampus

Alis Kholisoh by Alis Kholisoh
21 Januari 2026
in Analisis, Opini
0
Minim Partisipasi, Pemilwa jadi Warisan Kaburnya Demokrasi Kampus

Gambar: MyEdit

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan –  Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) sejatinya merupakan ruang pembelajaran demokrasi bagi mahasiswa. Di dalamnya, nilai partisipasi, transparansi, keadilan, dan tanggung jawab seharusnya ditanamkan sejak dini. Namun, Pemilwa 2026 kembali menunjukkan ironi yang sama. Persoalan lama terus berulang tanpa ada upaya perbaikan yang berarti dari tahun ke tahun.

Salah satu masalah paling krusial yang kembali muncul adalah minimnya sosialisasi dan edukasi terkait sistem Pemilwa. Banyak mahasiswa tidak benar-benar memahami mekanisme teknis pemilihan, mulai dari tahapan pencalonan, aturan kampanye, hingga tata cara pemungutan suara.

“Cuman tahu akan ada pemilwa tapi ngga tau ternyata hari ini,” ujar salah satu mahasiswa UIN Gusdur.

Sosialisasi yang dilakukan cenderung bersifat formalitas sekadar penyebaran pamflet atau unggahan singkat di media sosial tanpa pendekatan edukatif terhadap seluruh mahasiswa. Akibatnya, Pemilwa menjadi agenda segelintir pihak yang “paham sistem”, sementara mayoritas mahasiswa hanya berperan sebagai pemilih pasif, bahkan sebagian memilih untuk tidak terlibat sama sekali.

Bayangkan saja dari belasan ribu mahasiswa yang ada di Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan  yang terdata berpartisipasi pada Pemilwa tahun 2026 hanya mencapai 2.253 mahasiswa pada pemilihan SEMA Universitas dan 2176 mahasiswa pada pemilihan SEMA Fakultas. Tingkat partisipasi yang rendah sering kali dianggap sebagai bentuk apatisme mahasiswa, padahal persoalan utamanya justru terletak pada kegagalan penyelenggara dalam menghadirkan Pemilwa yang inklusif dan informatif.

Masalah lain yang tak kalah serius adalah kaburnya batas antara pelanggaran dan bukan pelanggaran. Setiap tahun, pola yang sama kembali terulang. Praktik-praktik yang secara etis bermasalah justru dilegalkan atau dibiarkan atas nama “tidak diatur secara eksplisit dalam aturan”. Penyalahgunaan pengaruh, pelanggaran yang dihalalkan hingga ketidaknetralan pihak tertentu kerap dianggap wajar karena “sudah menjadi kebiasaan”.

ArtikelTerkait

Ampera Gelar Panggung Rakyat Bentuk Kepedulian terhadap Sosial

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

Penuntut Umum KPK Hadirkan 11 Saksi dalam Sidang Ketiga Pembuktian Mantan Bupati Pekalongan

Lebih ironis lagi, ketika pelanggaran tersebut dipersoalkan, sering kali jawabannya adalah pembenaran normatif dengan dalih selama tidak tertulis sebagai pelanggaran, maka tidak dapat ditindak. Logika ini menunjukkan bahwa sistem Pemilwa tidak dirancang untuk menegakkan nilai keadilan, melainkan sekadar menjalankan prosedur administratif. Padahal, demokrasi tidak hanya berbicara soal aturan tertulis, tetapi juga etika dan substansi keadilan.

Ketiadaan evaluasi yang serius dari tahun ke tahun semakin memperparah kondisi ini. Setiap Pemilwa seolah berdiri sendiri tanpa refleksi atas kegagalan sebelumnya. Jika pun ada, Laporan evaluasi jarang dipublikasikan secara terbuka dan tidak dijadikan dasar perbaikan sistem di tahun berikutnya. Alhasil, Pemilwa 2026 hanya menjadi pengulangan dari Pemilwa tahun sebelum-sebelumnya dengan aktor berbeda, tetapi masalah yang sama.

Seorang mahasiswa yang turut berpartisipasi dalam Pemilwa SEMA Universitas dan SEMA Fakultas 2026 menuturkan, “Memang Pemilwa tahun ini memiliki kesalahan yang diulang-ulang di tahun sebelumnya.”

Pernyataan ini menegaskan absennya evaluasi yang serius dan berkelanjutan. Kesalahan yang telah terjadi sebelumnya tidak dijadikan bahan refleksi, melainkan dianggap lumrah dan dibiarkan berulang. Pelanggaran-pelanggaran yang secara etis bermasalah sering kali dinormalisasi karena tidak diatur secara eksplisit dalam regulasi. Alhasil, batas antara pelanggaran dan bukan pelanggaran menjadi kabur.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, Pemilwa berisiko kehilangan makna sebagai sarana pendidikan politik mahasiswa. Ia hanya akan menjadi ritual tahunan yang hampa nilai, bahkan berpotensi menormalisasi praktik demokrasi yang cacat. Perbaikan sistem sosialisasi yang edukatif, penegasan aturan yang berlandaskan etika, serta evaluasi terbuka dan berkelanjutan harus menjadi prioritas. Tanpa itu semua, Pemilwa 2026 dan Pemilwa di tahun berikutnya hanya akan menjadi bukti bahwa kita gagal belajar dari kesalahan yang sama.

 

Penulis: Alis Kholisoh

Editor: Sausan Zahra

 

Tags: #LPM Al Mizan#PEMILWA#UINGusdur
Alis Kholisoh

Alis Kholisoh

Related Posts

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

24 Agustus 2026
Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

23 Agustus 2026
Ketika Gelar Sarjana Kehilangan Daya Tawarnya

Ketika Gelar Sarjana Kehilangan Daya Tawarnya

23 Agustus 2026
Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

20 Agustus 2026
Resensi Film Tiba-Tiba Setan, Ketika Perburuan Harta Karun Berujung Teror Sungguhan

Resensi Film Tiba-Tiba Setan, Ketika Perburuan Harta Karun Berujung Teror Sungguhan

14 Agustus 2026
Menemukan Diri di Setiap Langkah: Menelusuri Makna Perjalanan dalam Arah Langkah

Menemukan Diri di Setiap Langkah: Menelusuri Makna Perjalanan dalam Arah Langkah

12 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2026

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In