• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Manusia, Seks, dan Gender

Redaksi Al-Mizan by Redaksi Al-Mizan
19 Juli 2019
in Opini
0
Manusia, Seks, dan Gender
Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

Kapan kamu pakai rok? Adalah pertanyaan yang selalu saya dapatkan dari teman atau bahkan keluarga saya sendiri hampir setiap hari. Selain enggan memakai rok, saya pun tak pernah memakai make up dan berjalan layaknya laki-laki. Sampai-sampai teman laki-laki saya mengatakan “Jadi feminin dikit dong, kan kamu udah dewasa. Nanti nggak ada yang suka lo,” ujarnya ketika sedang berlangsung perkulihan di salah satu perguruan tinggi di Kota Pekalongan.

Selain saya yang sering mendapatkan ucapan seksis, teman laki-laki saya juga pernah mendapatkannya. Sebut saja Yahya (bukan nama sebenarnya) yang sering diejek hanya karena berlari seperti perempuan dan tidak memiliki suara yang tegas.

Adanya hal yang kami alami tersebut, mengingatkan sayadengan buku karya Mansour Fakih yang berjudul Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Di dalam buku tersebut terdapat penjelasan perbedaan antara seks (jenis kelamin) dan gender.

Seks (jenis kelamin) terbentuk karena adanya kodrat dari Tuhan yang berupa jika perempuan memiliki vagina, ovum, serta bentuk tubuh yang bercirikan perempuan. Sedangkan laki-laki terbentuk karena mereka memiliki penis, sperma, dan struktur tubuh yang khas lainnya.

Berbeda dengan gender yang terbentuk karena konstruksi sosial. Misalnya perempuan harus memiliki hati yang lembut, keibuan, dan sifat feminin lainnya. Sedangkan laki-laki harus memiliki sifat berani, pemimpin, tegas dan sifat maskulin lainnya. Dan hal tersebut selalu diamini masyarakat dewasa ini dan berlangsung dengan jangka waktu yang panjang.

Melihat adanya teori terebut, nampaknya masyarakat kita belum paham betul mengenai konsep kesetaraan gender. Orang-orang sekitar kita beranggap jika perempuan yang memiliki sifat maskulin dinilai gagal menjadi perempuan yang seutuhnya. Begitu pun sebaliknya, jika ada laki-laki yang sering mengeluarkan air mata, maka mereka dianggap gagal menjadi pejantan yang sesungguhnya.

ArtikelTerkait

Menepis Stigma, Merajut Kesetaraan: Resensi Buku Menjadi Feminis Muslim

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Syafaat Bubur Suro 2026, Kolaborasi Budaya Krapyak dan Ekonomi Syariah

Jika kita berusaha menerapkan perempuan dan laki-laki yang selalu distandarisasi masyarakat pada umumnya itu artinya kita hanya membunuh diri kita secara perlahan. Tengok saja soal cengeng yang kesannya haram disematkan oleh laki-laki. Padahal, menurut penelitian, menangis bisa meredakan emosi dan menenangkan secara psikologis apapun jenis kelaminnya. Mungkin, itulah sebabnya rumah sakit jiwa kebanyakan pasien laki-laki karena mereka menganut paham masyarakat pada umumnya tersebut.

Tugas kita sebagai manusia adalah bukan memusingkan apa yang selama ini masyarakat anut, seperti yang dijelaskan diatas. Tugas kita yang paling utama adalah memanusiakan manusia, yang selama ini menjadi persoalaan utama sepanjang massa.

Seperti halnya pernyataan yang mengatakan jika kodrat perempuan ada di rumah dan mengurus tugas domestik. Bahkan ada yang mengatakan jika perempuan sebaiknya merelakan cita-citanya demi rumah tangga yang harmonis. Hal tersebut seakan-akan beban mengurus rumah tangga ada di pundak perempuan. Tak hanya itu, perempuan tak diberi kebebasan untuk menggapai semua mimpinya.

Contoh persoalaan memanusiakan manusia yang lain adalahketika ada argumen yang mengatakan jika orang yang menyukai sesama jenis adalah sesat lalu perlu dirukiyah agar (menurut penggagasnya) kembali ke jalan yang lurus. Adanya peristiwa ini adalah termasuk kekerasan karena seakan-akan kita tidak menghargai pilihan orang lain.

Begitu pun dengan kejadian seseorang yang keluar dari agama Islam. Sebut saja yang sedang viral akhir-akhir ini yaitu Salma Fina, anak pengacara kondang yang telah memilih kitab Injil sebagai pedoman hidupnya. Namun, bukannyadirangkul untuk tetap teguh menjalaninya, yang ada malah hujan hujatan yang diterima oleh Salma Fina.

Itulah yang menjadi tugas utama kita. Selalu merangkul mereka yang dikekang maupun yang tak sepaham dengan kita. Selalu memandang bahwa perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama. Dan yang paling penting adalah selalu menjunjung tinggi rasa kemanusiaan daripada stereotipe masyarakat pada umunya.

Redaksi Al-Mizan

Redaksi Al-Mizan

Related Posts

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026
Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

21 Mei 2026
Mengurai Kontras antara People Pleasing dan Self Love

Mengurai Kontras antara People Pleasing dan Self Love

21 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In