lpmalmizan – Fenomena mahasiswa yang semakin aktif dan lantang bersuara di media sosial menjadi pemandangan yang sangat mudah ditemui dalam beberapa tahun terakhir. Rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu ±3-3,5 jam perhari di media sosial, tetapi waktu membaca khususnya membaca buku hanya sekitar 20 menit per hari, atau rata-rata 1 jam 30-40 menit per hari jika digabungkan dengan bacaan digital.
Padahal indeks kegemaran membaca Indonesia tahun 2023 berada pada angka 66,67–kategorinya sedang-cukup, bahkan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pengaruh langsung di media sosial terhadap minat baca mahasiswa saintek hanya 7,5% sebuah hubungan yang tergolong rendah, data ini sekaligus menunjukkan bahwa media sosial bukan satu-satunya faktor yang menentukan turunnya budaya membaca.
Meski demikian detail literasi nasional sebenarnya menunjukkan ada peningkatan indeks remaja pada tahun 2023 mencapai 66,67, naik dari tahun sebelumnya. Namun naiknya angka ini belum otomatis membuat mahasiswa lebih tepat membaca buku akademik.
Sebuah penelitian di UIN Maulana Malik Ibrahim menunjukkan bahwa pengaruh media sosial terhadap minat belajar mahasiswanya 7,5% dengan korelasi 0,273, kategori hubungan rendah. Artinya, persoalan utama bukan sekadar media sosial yang mengalahkan perhatian, tetapi lebih pada kultur membaca mahasiswa sendiri yang semakin melemah. Mahasiswa tampaknya punya kemampuan analisis yang kuat saat menentukan dan berdebat di dunia maya, tapi keahlian tersebut tidak selalu ditebang oleh kedalaman pengetahuan dari ruang baca.
Jika melihat durasi penggunaan media sosial yang mencapai 3-3,5 jam perhari wajar bila mahasiswa lebih terbiasa menyerap informasi cepat dan singkat. Namun, ketika data menunjukkan masyarakat hanya membaca sekitar 20 menit per hari kita dapat melihat adanya jurang yang cukup lebar antara konsumsi informasi instan dan literatur panjang yang membutuhkan konsentrasi jumlah.
Kritisnya mahasiswa sebenarnya tidak kekurangan akses terhadap rencana akademik tetapi kesulitan mempertahankan fokus di tengah kebiasaan digital yang serba singkat. Disini bisa dilihat kebiasaan ini membuat mahasiswa cenderung lebih cepat berpendapat daripada membaca dalam pemahaman.
Kenaikan indeks kegemaran membaca memang menggembirakan, tetapi tidak serta-merta menggambarkan kualitas membaca mahasiswa. Data tersebut menunjukkan tren nasional, bukan kondisi ruang baca kampus yang dari hari ke hari justru semakin sepi.
Bahkan ketika penelitian menemukan bahwa media sosial hanya mempengaruhi minat baca sebesar 7,5%, justru dari sinilah muncul persoalan yang lebih dalam. Artinya rendahnya minat baca mahasiswa bukan karena media sosial semata, melainkan karena membaca belum menjadi kebutuhan intelektual yang mereka anggap penting. Banyak mahasiswa yang lebih rajin mengikuti tren wacana di media sosial dibanding membaca jurnal, padahal wacana yang kuat mestinya berdiri di atas pengetahuan yang teruji.
Ketika mahasiswa tampak sangat kritis di media sosial, kini bisa dilihat kekritisan itu sering tidak sejalan dengan pemahaman yang berbasis bacaan. Media sosial memang melatih keberanian berkomentar, tetapi tidak otomatis melatih ketelitian berpikir.
Pola pikir cepat yang terbentuk dari konten singkat sering membuat mahasiswa lebih terampil menyusun opini dari pada menelusuri fakta secara mendalam. Inilah yang menyebabkan mereka terlihat cerdas di media sosial tetapi mandul di ruang baca. Kemampuan berpendapat tidak berkembang menjadi kemampuan mendengar apabila tidak dibarengi kebiasaan membaca yang serius.
Pada akhirnya mahasiswa tidak bisa hanya mengejar kecerdasan instan di media sosial. Data tentang tingginya durasi penggunaan media sosial dan rendahnya waktu membaca menunjukkan perlunya menata ulang prioritas.
Ruang baca bukan hanya tempat fisik tetapi bisa dijadikan proses intelektual yang tenang, mendalam, dan terukur. Jika mahasiswa ingin menjadi tokoh utama dalam perubahan yang berkelas, maka keberanian berbicara di dunia digital kita harus seimbang dengan kedalaman membaca. Tanpa itu, kecerdasan yang ditampilkan di media sosial hanya akan menjadi gempa tanpa pondasi.
Penulis: Rifka Ismi Azizah
Editor: Atika Puspita Rini.






