• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Mahasiswa Cerdas di Media Sosial Tetapi Mandul di Ruang Baca

Redaksi Al-Mizan by Redaksi Al-Mizan
8 Desember 2025
in Analisis, Opini
0
Mahasiswa Cerdas di Media Sosial Tetapi Mandul di Ruang Baca

Sumber Foto: Pinterest

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

ArtikelTerkait

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Syafaat Bubur Suro 2026, Kolaborasi Budaya Krapyak dan Ekonomi Syariah

Dorong Penghijauan Kampus di UIN Gus Dur, Menteri Agama Berikan Pembinaan Ekoteologi

lpmalmizan – Fenomena mahasiswa yang semakin aktif dan lantang bersuara di media sosial menjadi pemandangan yang sangat mudah ditemui dalam beberapa tahun terakhir. Rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu ±3-3,5 jam perhari di media sosial, tetapi waktu membaca khususnya membaca buku hanya sekitar 20 menit per hari, atau rata-rata 1 jam 30-40 menit per hari jika digabungkan dengan bacaan digital.

Padahal indeks kegemaran membaca Indonesia tahun 2023 berada pada angka 66,67–kategorinya sedang-cukup, bahkan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pengaruh langsung di media sosial terhadap minat baca mahasiswa saintek hanya 7,5% sebuah hubungan yang tergolong rendah, data ini sekaligus menunjukkan bahwa media sosial bukan satu-satunya faktor yang menentukan turunnya budaya membaca.

Meski demikian detail literasi nasional sebenarnya menunjukkan ada peningkatan indeks remaja pada tahun 2023 mencapai 66,67, naik dari tahun sebelumnya. Namun naiknya angka ini belum otomatis membuat mahasiswa lebih tepat membaca buku akademik.

Sebuah penelitian di UIN Maulana Malik Ibrahim menunjukkan bahwa pengaruh media sosial terhadap minat belajar mahasiswanya 7,5% dengan korelasi 0,273, kategori hubungan rendah. Artinya, persoalan utama bukan sekadar media sosial yang mengalahkan perhatian, tetapi lebih pada kultur membaca mahasiswa sendiri yang semakin melemah. Mahasiswa tampaknya punya kemampuan analisis yang kuat saat menentukan dan berdebat di dunia maya, tapi keahlian tersebut tidak selalu ditebang oleh kedalaman pengetahuan dari ruang baca.

Jika melihat durasi penggunaan media sosial yang mencapai 3-3,5 jam perhari wajar bila mahasiswa lebih terbiasa menyerap informasi cepat dan singkat. Namun, ketika data menunjukkan masyarakat hanya membaca sekitar 20 menit per hari kita dapat melihat adanya jurang yang cukup lebar antara konsumsi informasi instan dan literatur panjang yang membutuhkan konsentrasi jumlah.

Kritisnya mahasiswa sebenarnya tidak kekurangan akses terhadap rencana akademik tetapi kesulitan mempertahankan fokus di tengah kebiasaan digital yang serba singkat. Disini bisa dilihat kebiasaan ini membuat mahasiswa cenderung lebih cepat berpendapat daripada membaca dalam pemahaman.

Kenaikan indeks kegemaran membaca memang menggembirakan, tetapi tidak serta-merta menggambarkan kualitas membaca mahasiswa. Data tersebut menunjukkan tren nasional, bukan kondisi ruang baca kampus yang dari hari ke hari justru semakin sepi.

Bahkan ketika penelitian menemukan bahwa media sosial hanya mempengaruhi minat baca sebesar 7,5%, justru dari sinilah muncul persoalan yang lebih dalam. Artinya rendahnya minat baca mahasiswa bukan karena media sosial semata, melainkan karena membaca belum menjadi kebutuhan intelektual yang mereka anggap penting. Banyak mahasiswa yang lebih rajin mengikuti tren wacana di media sosial dibanding membaca jurnal, padahal wacana yang kuat mestinya berdiri di atas pengetahuan yang teruji.

Ketika mahasiswa tampak sangat kritis di media sosial, kini bisa dilihat kekritisan itu sering tidak sejalan dengan pemahaman yang berbasis bacaan. Media sosial memang melatih keberanian berkomentar, tetapi tidak otomatis melatih ketelitian berpikir.

Pola pikir cepat yang terbentuk dari konten singkat sering membuat mahasiswa lebih terampil menyusun opini dari pada menelusuri fakta secara mendalam. Inilah yang menyebabkan mereka terlihat cerdas di media sosial tetapi mandul di ruang baca. Kemampuan berpendapat tidak berkembang menjadi kemampuan mendengar apabila tidak dibarengi kebiasaan membaca yang serius.

Pada akhirnya mahasiswa tidak bisa hanya mengejar kecerdasan instan di media sosial. Data tentang tingginya durasi penggunaan media sosial dan rendahnya waktu membaca menunjukkan perlunya menata ulang prioritas.

Ruang baca bukan hanya tempat fisik tetapi bisa dijadikan proses intelektual yang tenang, mendalam, dan terukur. Jika mahasiswa ingin menjadi tokoh utama dalam perubahan yang berkelas, maka keberanian berbicara di dunia digital kita harus seimbang dengan kedalaman membaca. Tanpa itu, kecerdasan yang ditampilkan di media sosial hanya akan menjadi gempa tanpa pondasi.

 

Penulis: Rifka Ismi Azizah

Editor: Atika Puspita Rini.

Tags: #LPM Al Mizan#UINGusdurkrisis membaca
Redaksi Al-Mizan

Redaksi Al-Mizan

Related Posts

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

17 Juli 2026
Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026
Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

21 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In