• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Literasi Memudar, Masa Depan Cemas

Siska Sephia by Siska Sephia
26 Desember 2024
in Analisis, Opini
0
Ilustrasi: CNN Indonesia

Ilustrasi: CNN Indonesia

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Literasi merupakan salah satu kunci di era sekarang ini. Tidak hanya membaca dan menulis, literasi merupakan dasar awal setiap individu dalam memajukan bangsa. Anak-anak saat ini diharuskan untuk mengetahui tentang literasi, karena segala informasi yang didapat dari literasi menjadi jembatan untuk memahami dan memanfaatkan pengetahuan. Namun, apa yang terjadi di era digital ini sangatlah miris. Anak- anak yang mengenyam bangku sekolah justru banyak yang tidak mengetahui apa itu literasi. Fenomena ini sudah banyak terjadi diberbagai daerah. Hal ini, bukan menjadi hal yang lumrah lagi. Sebab, perubahan dari generasi ke generasi sangat berbeda drastis. Jika dulu membaca adalah hal yang sangat luar biasa, dan saat ini anak-anak lebih memilih gawainya. Literasi negara lain berbeda dengan literasi di Indonesia yang tergolong rendah.

Faktor memudarnya literasi karena anak-anak terpengaruh media sosial. Era sekarang dihadapkan dengan keinstanan untuk mengetahui segala informasi yang diakses dari berbagai aplikasi. Situs media sosial sangat mengancam perkembangan bagi setiap individu. Penggunaan media sosial dominan menjadi ketagihan dalam pemakaiannya, seperti konten visual yang mendorong dan menarik agar banyak penontonnya, hal tersebut sebuah realita penyebab memudarnya literasi dari anak-anak zaman sekarang. Tidak hanya media sosial, game juga menjadi salah satu dampak terbesar dalam pembawa pengaruh buruk bagi anak-anak.  Tentunya dalam proses membaca perlu dengan kefokusan yang tinggi. Namun, dengan pergantian Kurikulum Merdeka justru memperburuk situasi saat ini, karena  kurang dalam menekankan proses menulis dan membaca pada setiap individunya.

Literasi memudar sudah memasuki ranah yang meluas. Berpikir kritis dari setiap individu terhambat karena kurang terbiasa dalam membaca. Katanya ingin menuju Indonesia Emas? Tetapi, anak-anak zaman sekarang lebih memilih mendapatkan informasi dari media sosial, yang kurang memberikan edukasi dan sering dinilai dangkal serta mudah mengendalikan pikiran seseorang.  Anak-anak yang kurang dalam membaca juga sering dianggap kurang sopan dalam bertutur kata, kurang dalam menyampaikan pendapat dan gagasan, hal tersebut karena pengaruh gawainya. Anak-anak sekarang lebih memikirkan kesenangan dari pada masa depan, sehingga susah dalam meningkatkan konsentrasi belajar yang dialami setiap individu. Karena setiap individu hanya belajar di sekolah, dan jika sudah berada di rumah, individu memililih untuk memegang gawai daripada buku.

Tidak berbeda jauh dengan anak-anak. Memudarnya literasi tidak hanya dialami oleh anak-anak saja, tetapi orang dewasa pun banyak yang mengalami kesulitan dalam pembiasaan membaca. Realitanya orang-orang banyak yang tidak peduli dengan budaya literasi, Seperti contohnya dengan masalah sepele ”Dilarang buang sampah disini!” tetapi orang-orang tidak peduli akan hal tersebut dan masih tetap melakukan hal tersebut berulang kali. Informasi atau pemberitahuan pendek saja tidak dipedulikan apalagi buku? masyarakat saat ini digencarkan dengan aplikasi  Facebook yang dimana Facebook sering membagikan informasi hoaks dan tidak jelas kebenarannya, hal tersebut sangat dipercayai oleh masyarakat Facebook. Karena mereka tidak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Masyarakat sekarang juga sulit untuk memahami isu-isu publik, karena orang-orang lebih sering membaca informasi hanya awal kalimatnya saja dan tidak dibaca hingga akhir tulisannya.

Digital sebenarnya tidak salah, hanya saja digital seharusnya digunakan secara bijak serta jangan terus menerus oleh setiap individu dan anak-anak. Karena pada dasarnya informasi yang sedang trending pada waktunya akan update lewat gawai lebih dulu. Sebagai pengguna gadget sebaiknya juga dapat menyaring informasi agar tidak terjadi kesalahpahaman. Karena sejatinya, apikasi pada gawai juga memiliki kelemahan yang terkadang penyampaian informasinya terdapat kekurangan dan kesalahan, baik itu disengaja ataupun tidak yang dapat memunculkan sikap emosi seseorang. Hal itu membuat masyarakan pun kebingungan dengan bagaimana cara menggunakan teknologi digital di era saat ini untuk meningkatkan minat dalam membaca.

Pemerintah sebaiknya segera mengatasi masalah yang terjadi saat ini, yang tengah dialami oleh anak-anak sekarang tentang memudarnya literasi. Pemerintah dapat membuat program seperti ”satu hari dapat membaca buku”, walaupun tidak diharuskan buku  yang dibaca selesai dalam waktu satu hari itu. Adanya program tersebut setiap siswa yang bersekolah dapat terbiasa dengan membaca buku. Peningkatan literasi tidak hanya tanggung jawab pemerintah saja. Tetapi bidang Kurikulum Pendidikan juga harus melihat porsi dalam proses belajarnya, karena pelajar Indonesia dengan negara lain berbeda dan jangan disamakan. Seharunya juga siswa yang belum mahir dalam hal yang belum dikuasai tidak seharusnya dinaikkan kelas, karena hal tersebut adalah salah satu dampak yang terjadi dikemudian harinya. Jadi, banyak anak yang beranggapan bahwa “saya tidak bisa tidak apa-apa, yang penting naik kelas”, hal tersebut membuat semangat belajar siswa menurun. Guru juga harus menekankan siswa, terutama dalam mengembangakan keterampilan membaca dan menulis agar siswa memiliki minat belajar yang tinggi.

ArtikelTerkait

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Isak Semesta

Isu Pembungkaman Media Digital dan Fakta di Baliknya

Masyarakat tak kalah penting dalam peningkatan literasi di era saat ini. Pastinya masyarakat yang pandai dalam hal peningkatan literasi dapat berupaya untuk membuat perpustakan kecil, yang dimana perpustakaan tersebut berisi tentang buku-buku yang dapat dibaca oleh anak-anak hingga orang dewasa. Dapat pula membuat beberapa pertemuan dalam pelatihan edukasi mengenai Literasi kepada masyarakat daerah. Upaya-upaya tersebut dapat menjadikan setiap individu sadar akan pentingnya literasi demi masa depan.

Simpulannya, tantangan seperti masalah saat ini bahwa literasi telah memudar karena situs media sosial. Gunakan gadget dengan bijak demi masa depan. Karena, kunci masa depan adalah literasi. Anak-anak diharus untuk bisa membaca tetapi pergantian Kurikulum tidak menjamin kualitas siswa. Hanya dengan upaya melatih terus menurus dapat menjadikan seseorang terampil dalam berliterasi. Sebab, dengan kebiasan pastinya akan terbiasa. Dengan penuh kesadaran mari kita bangun kembali semangat dalam minat membaca seperti dahulu kala, karena masa depan ada ditangan anak-anak muda yang berliterat.

“Tidak ada yang akan berhasil kecuali kau melakukannya.” – Maya Angelou

Penulis: Siska Sephia

Editor: Alifatul Qaidah

Tags: #LPMAl-MizanliterasiOpini
Siska Sephia

Siska Sephia

Related Posts

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026
Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

21 Mei 2026
Mengurai Kontras antara People Pleasing dan Self Love

Mengurai Kontras antara People Pleasing dan Self Love

21 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In