lpmalmizan – Aku menjejak di kota yang pernah kita kunjungi,
udara masih sama, senja masih jatuh di tempat yang dulu kita tatap bersama.
Tapi kali ini, tak ada tawa kecilmu yang memecah sepi,
hanya suara hatiku yang bergema di dinding-dinding ingatan.
Aku selalu mengusahakan temu,
menyeberang waktu, melompati lelah,
demi melihat matamu yang pernah menjadi rumah.
Dan ketika akhirnya kita bersua,
aku kira itu awal dari segalanya.
Ternyata hanya perhentian sementara,
untuk kau belajar kembali meninggalkan.
Kau bilang, kau masih trauma,
masih ada luka yang belum pulih.
Tapi aku melihatmu tersenyum pada dunia,
dan aku bertanya,
mengapa hanya padaku kau tutup pintu itu?
Aku tidak marah.
Aku hanya diam-dalam rindu yang tak bisa kau balas.
Aku hanya diam-di hadapan kenangan yang hanya hidup di pihakku.
Jika kau lupa pertemuan itu,
biarlah aku yang mengingat untuk kita berdua.
Karena bagi hatiku, kau pernah ada.
Dan itu cukup, meski hanya sesaat.
Penulis: Ibnu Salim
Editor: Atika Puspita.






