lpmalmizan – Menyusun skripsi kerap menjadi tantangan besar bagi mahasiswa tingkat akhir. Bagi Dwi Yoga Prasetyo, mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris asal Gandarum, Kajen, Pekalongan, menyelesaikan skripsi bukanlah hal yang mudah. Prosesnya penuh tantangan, terutama saat harus mencari data ke lapangan.
“Membuat skripsi itu tentunya struggle, ada tantangan tersendiri, terutama untuk mencari data karena saya berhubungan dengan instansi atau sekolah,” ujar Yoga.
Namun, tantangan tidak hanya berhenti di situ. Bagi Yoga, menjaga konsistensi dalam menulis justru menjadi kendala utama. Meski demikian, ia berhasil menyelesaikan skripsinya dalam waktu dua bulan setelah seminar proposal, dengan total 95 halaman.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Yoga terpilih sebagai wisudawan terbaik. Sebuah pencapaian yang menurutnya cukup mengejutkan.
“Saya merasa banyak teman-teman saya yang secara akademis lebih baik dari saya. Tapi mungkin saya lebih unggul dari sisi konsisten dan disiplin,” katanya.
Setelah lulus, Yoga mengaku masih mempertimbangkan pilihan antara bekerja atau melanjutkan studi.
“Sebenarnya saya tadinya ingin mencari kerja. Tapi karena saya mendapat beasiswa S2 di sini sebagai wisudawan terbaik, itu akan saya pertimbangkan lagi,” ujarnya.
Yoga juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa lain agar terus menjaga semangat dalam menjalani perkuliahan.
“Saya beri saran agar selalu menjaga konsistensi dan kedisiplinan. Kalian tidak harus pintar untuk mencapai hal terbaik, tapi kalian harus konsisten dan disiplin. Live a life we will remember. Hiduplah di kehidupan yang akan kamu ingat.”
Penulis: Noor Iqromah
Editor: Atika Puspita
Tim Liputan: Naela Azkiya, Chusma, Iqromah.






