lpmalmizan – Mahasiswa baru UIN Gusdur dihebohkan dengan spanduk bertuliskan “302 Jt kemana?”, yang terpasang di lantai 2 gedung student centre pada hari terakhir kegiatan PBAK, Jumat (23/8). Tak pelak hal tersebut viral di story WhatsApp hingga menjadi FYP (For Your Page) di media sosial TikTok.
Wisnu Akbar Prihatnala, selaku Ketua DEMA UIN Gusdur periode 2024, memberikan tanggapan terkait viralnya pertanyaan “302 Jt kemana?”. Ia menjelaskan, alasan adanya kejadian tersebut yaitu berangkat dari keresahan mahasiswa terkait dana PBAK.
Rancangan Anggaran Belanja (RAB) yang dibagikan kepada pihak DEMA dan segenap panitia unsur mahasiswa pada Kamis (22/8) dirasa terlambat disampaikan oleh penanggung jawab keuangan PBAK. Pihak DEMA pun tidak dilibatkan dalam penyusunan RAB.
“Kemudian dari DEMA, dari awal pembahasan PBAK tidak dilibatkan dalam penganggaran, dalam penyusunan RAB DEMA tidak dilibatkan sama sekali. Bahkan kami mengetahui anggaran PBAK 302 juta itu dihari ketiga PBAK,” jelas Wisnu.
Menurut Wisnu, nominal 302 juta yang dianggarkan untuk kegiatan PBAK dinilai tidak masuk akal.
“Temen-temen DEMA kaget, dengan anggaran 302 juta hanya mendapatkan seperti ini. Kita juga melihat jelas secara rinci, kita berpandangan nggak masuk akal,” ungkap Wisnu lebih lanjut.
Sementara itu, menanggapi apa yang terjadi di hari terakhir PBAK, panitia PBAK melalui Dhimas Ilham selaku penanggung jawab keuangan PBAK buka suara. Ditemui di forum evaluasi PBAK pada Kamis (29/8), Dhimas mengatakan jika keterlambatan menyampaikan RAB karena dalam pelaksanaan PBAK tahun ini ditambahkan dengan pelaksanaan kegiatan sospem (sosialisasi pembelajaran).
“Karena memang di RAB PBAK kali ini ada arahan yang perlu ditambahkan dalam pelaksanaannya yaitu masalah sospem (PBAK Fakultas),” ujar Dhimas.

Lebih lanjut, Dhimas menambahkan jika adanya pergantian pegawai yang baru juga menjadi hambatan dalam keterlambatan penyampaian RAB PBAK.
“Kemudian saya juga baru pindah dari umum ke akademik, langsung saya dikejar PMB, akhirnya hal tersebut yang menjadikan mengapa RAB terlambat,” tambahnya.
Menurut Dhimas, penggunaan anggaran pada PBAK sudah 90% mendekati realisasinya. Akan tetapi, ada beberapa hal yang membuat anggaran PBAK menjadi membengkak.
Diantaranya ada pada konsumsi di malam inagurasi yang pada awalnya tidak dianggarkan. Kemudian pelaksanaan PBAK Fakultas yang dilaksanakan dengan serangkaian PBAK Universitas, juga menjadi salah satu alasan membengkaknya anggaran di PBAK.
Terkait DEMA yang tidak dilibatkan dalam penyusunan RAB, Dhimas mengaku sudah turut serta melibatkan DEMA.
“Penyusunan anggaran kami melibatkan Dema, rangkaian kegiatan PBAK kami ambil dari proposal yang diajukan oleh Dema, termasuk narasumber, kegiatan pra PBAK dll juga atas usulan Dema kami realisasikan, beberapa kali kesempatan sebelum kegiatan dilaksanakan kami rapat bersama dengan SEMA dan DEMA,” jelas Dhimas.
Penulis: Dewi Lutfiyani
Tim Liputan: Dewi, Amin, Dina
Editor: Dina Fitriana







Lalu bagaimana penyelesaiannya? Harus di usut tuntas ini. Apalagi mereka yang tidak sesuai dalam memberikan konsumsi. Disuruh iuran oleh PJ tiap kelompok tapi makanan yang ada tidak sesuai dan bahkan jauh dari harga sebenarnya. Heran sama kampus islam tapi tidak menerapkan nilai nilai keislamannya.