• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Dua Mata untuk Anak Luar Biasa

Redaksi Al-Mizan by Redaksi Al-Mizan
21 Desember 2021
in Esai
0
Dua Mata untuk Anak Luar Biasa

Photo by: Riaumandiri.co

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

Beberapa waktu lalu saya main ke Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Pekalongan untuk menemani teman saya penelitian. Hari itu adalah kali pertama saya masuk ke sana. Ada rasa senang, khawatir, haru, dan kagum yang menyelimuti langkah serta pandangan saya. Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika mendengar “Anak luar biasa”? Bisa jadi kita memiliki spekulasi yang bermacam-macam. Namun di sini, ijinkan saya untuk mengulas sedikit pengalaman saya.

Baiklah. Cerita akan saya mulai dari awal, sejak saya memarkirkan motor. Kala itu teman-teman saya sudah menunggu di dalam. Saya terlambat. Pemandangan yang pertama kali saya lihat adalah dua siswa SLB yang sedang berkelahi. Tapi tak nampak sedikit pun mimik muka marah. Mereka berkelahi dengan tertawa. “Seperti itu kah perkelahian anak luar biasa?” pikir saya.

Setelah bertanya di mana ruangan Tata Usaha (TU) kepada salah seorang wali murid, saya disuguhkan pemandangan yang -kalau saya boleh mengatakannya- sangat langka. Nampak ibu-ibu yang sedang berkumpul. Salah satu dari mereka ada yang di depan dan memperagakan gerakan tangan, sedang yang lain membacanya. Mereka sedang belajar SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) dibimbing oleh dua guru SLB.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Oliv, guru SLB tersebut. Gagasannya muncul ketika dia menangkap kesalahpahaman orang tua kepada anaknya yang tunawicara. Bahasa isyarat yang digunakan orang tua nampak kacau, padahal bahasa ini merupakan sarana penting berkomunikasi. “Kita nggak bisa memaksakan mereka (anak berkebutuhan khusus) -yang minoritas- bisa memahami kita. Tapi cobalah kita yang mayoritas, masuk ke dalam dunia mereka dan memahami apa yang mereka butuhkan,” ucap Oliv saat kami temui setelah mengajar. Di dunia ini tidak hanya ada anak luar biasa melainkan juga orang tua dan guru yang tak kalah luar biasa.

Rekreasi saya tidak berhenti sampai di sana. Kami masuk ke dalam kelas dan mencicipi belajar bersama mereka. Tidak ada yang berbeda dengan sekolah biasa. Mereka duduk rapih dan menaati peraturan guru. Bahkan ketika salah satu di antara mereka memiliki permen, dia berbagi kepada teman-temannya. Dia juga meletakkan permen itu di meja guru. Ketika seorang temannya yang berjalan menggunakan kursi roda pun, mereka saling membantu untuk memapah teman tersebut. Sudahkah kita yang memiliki kesempurnaan secara fisik mampu melakukan hal-hal sederhana semacam itu?

ArtikelTerkait

Dua Sisi Syawalan Pekalongan: Melestarikan Lopis atau Merawat Nyawa?

Menjelang Lebaran, Menhub Evaluasi Jalur Kereta Api Pekalongan-Sragi Terdampak Banjir

Bengawan Solo

Tags: artikeliainpekalonganlpmalmizanmahasiswapekalonganslb
Redaksi Al-Mizan

Redaksi Al-Mizan

Related Posts

Gaung 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Tak Pernah Benar-Benar Tiba di Pekalongan

Gaung 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Tak Pernah Benar-Benar Tiba di Pekalongan

11 Desember 2025
Sunyi di Balik Meja Kerja: Mengintip Celah Pencegahan Kekerasan Seksual di Kantor Publik

Sunyi di Balik Meja Kerja: Mengintip Celah Pencegahan Kekerasan Seksual di Kantor Publik

11 Desember 2025
Rasa Takut, Tantangan Komunikasi, dan Pembentukan Keberanian dalam Presentasi Pertama di Kampus

Rasa Takut, Tantangan Komunikasi, dan Pembentukan Keberanian dalam Presentasi Pertama di Kampus

11 Desember 2025
Di Tengah Gempuran AI, Mampukah Spiritualitas Menyelamatkan Nilai Kemanusiaan?

Di Tengah Gempuran AI, Mampukah Spiritualitas Menyelamatkan Nilai Kemanusiaan?

27 November 2025
Indonesia Katanya Nggak Butuh Ahli Gizi. Lah Terus Prodi Ilmu Gizi Kampus Saya Buat Apa?

Indonesia Katanya Nggak Butuh Ahli Gizi. Lah Terus Prodi Ilmu Gizi Kampus Saya Buat Apa?

17 November 2025
Fenomena Fear of Missing Out dalam bingkai Iman dan Akal

Fenomena Fear of Missing Out dalam bingkai Iman dan Akal

17 Mei 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In