lpmalmizan – Ketimpangan sosial sering kali hadir dalam kehidupan sehari-hari tanpa selalu disadari. Melalui Buletin Gerakan Insan Ekspresif bertema “Pensil vs Panci,” Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al-Mizan mengajak mahasiswa membaca realitas tersebut lewat tulisan dalam kegiatan launching buletin yang digelar pada Minggu (8/3) di Aula Fakultas Syariah, Kampus 2 UIN Gusdur Pekalongan.
Penerbitan buletin tersebut terangkai dalam kegiatan Ngaji Jurnalistik bertajuk “Memotret Ketimpangan Sosial dan Menyuarakan Kesetaraan di Bulan Ramadan.” Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 50 peserta dari kalangan mahasiswa.
Tema Pensil vs Panci dalam buletin tersebut mengangkat persoalan ketimpangan sosial di masyarakat. Melalui karya yang dimuat dalam buletin, mahasiswa diajak untuk melihat bagaimana pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sehari-hari kerap menghadirkan jarak yang tidak selalu tampak secara kasat mata.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Rektor III UIN Gusdur Pekalongan, Shinta Dewi Rismawati, serta Pembina LPM Al-Mizan, Nasrudin. Dalam sambutannya, Wakil Rektor III menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan literasi yang diinisiasi mahasiswa, khususnya karena dilaksanakan pada bulan Ramadan yang identik dengan refleksi diri dan peningkatan aktivitas keilmuan.
“Kegiatan seperti ini sangat baik untuk mahasiswa, apalagi dilaksanakan di bulan Ramadan. Selain menambah wawasan, forum seperti ini juga melatih mahasiswa untuk lebih peka terhadap persoalan sosial,” ujarnya.
Sementara itu, Pembina LPM Al-Mizan, Nasrudin, berharap kegiatan ini dapat menumbuhkkan minat mahasiswa untuk berkiprah di bidang jurnalistik, baik sebagai wartawan maupun profesi lain di dunia media.
“Kegiatan seperti ini tentu lebih bermanfaat daripada hanya menghabiskan waktu dengan rebahan di kamar. Dari forum seperti ini juga tidak menutup kemungkinan akan lahir mahasiswa yang kelak menekuni dunia media, baik sebagai wartawan maupun profesi lainnya,” pungkas Nasrudin.
Ketua pelaksana kegiatan, Zakki, mengatakan bahwa forum Ngaji Jurnalistik dapat menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengasah daya kritis sekaligus keberanian dalam menyampaikan pendapat.
“Melalui forum ini teman-teman bisa lebih berani berpikir kritis dan menyampaikan pendapatnya,” jelasnya.
Rangkaian kegiatan ngaji jurnalistik diawali dengan sesi Focus Group Discussion (FGD) yang dipandu oleh Willyaksana. Pada sesi ini, peserta diajak membedah berbagai karya yang dimuat dalam Buletin GIE bertema Pensil vs Panci.
Berbagai pandangan muncul mengenai bagaimana tulisan dapat memotret realitas ketimpangan sosial di masyarakat. Beberapa peserta juga aktif menyampaikan pandangan ketika membahas tulisan-tulisan yang dimuat dalam buletin tersebut.
Selanjutnya, Mukoyimah menyampaikan pembahasan mengenai investigasi jurnalistik. Ia menekankan bahwa kerja jurnalistik tidak hanya sebatas menulis berita, tetapi juga membutuhkan ketelitian, keberanian, serta tanggung jawab dalam menggali fakta serta menyampaikannya kepada publik.
Meski kegiatan berlangsung pada akhir pekan dan di tengah suasana berpuasa, para peserta tetap terlihat antusias mengikuti setiap rangkaian acara. Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa ruang literasi seperti ini masih menjadi tempat penting bagi mahasiswa untuk menyalurkan gagasan serta mengasah kepekaan sosial.
Kegiatan kemudian ditutup dengan buka puasa bersama. Lebih dari sekadar penerbitan buletin, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa tulisan tidak hanya berfungsi sebagai catatan, tetapi juga sebagai cara membaca dan memahami realitas sosial yang terjadi di sekitar.
Penulis: Muhammad Zakki Musyafa
Editor: Achmad Bagas Pranata






