• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Board of Peace Perdamaian tanpa Palestina

Ainun Naimah by Ainun Naimah
24 Februari 2026
in Analisis, Opini
0
Board of Peace Perdamaian tanpa Palestina

Sumber: tribuntrends.com

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian Gaza dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Keputusan tersebut diumumkan secara bersamaan oleh para Menteri Luar Negeri Indonesia, Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab pada Kamis (22/1/26).

Partisipasi Indonesia dalam BoP disebut bertujuan untuk mendukung upaya penghentian konflik, menjamin keselamatan warga sipil, serta memperluas distribusi bantuan kemanusiaan bagi masyarakat di Gaza. Namun, tidak semua negara setuju.

Banyak negara menolak bergabung karena BoP dinilai tidak independen. Dilansir dari hukumonline.com, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, menegaskan bahwa negaranya tidak akan berpartisipasi karena BoP berada di luar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sikap serupa juga disampaikan oleh Swedia dan Yunani yang menilai forum tersebut tidak sejalan dengan mandat PBB.

Di sinilah kekecewaan itu muncul. Langkah Indonesia yang bergabung dalam forum BoP ini patut dipertanyakan. Pasalnya, forum yang disebut-sebut sebagai wadah perdamaian Palestina ini justru tidak melibatkan Palestina.

Selain itu, forum ini dipimpin oleh Amerika Serikat yang memiliki peran besar dalam konflik tersebut. Masuknya Indonesia ke dalam BoP dinilai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina.

Terdapat pula kekhawatiran bahwa Indonesia hanya akan dimanfaatkan. Salah satu tujuan BoP adalah melucuti senjata Hamas. Jika Indonesia mengirimkan 8.000 tentara, yang sebagian besar beragama Islam, hal tersebut dikhawatirkan akan membatasi pergerakan Hamas dan mencegah mereka melakukan serangan.

ArtikelTerkait

844 Wisudawan UIN Gus Dur Raih Predikat Cumlaude di Wisuda Agustus 2026

Siaran Pers: Hentikan Kekerasan Terhadap Jurnalis Mahasiswa, Berikan Perlindungan Memadai! Forum Persma se-DIY dan AJI Yogyakarta

Ampera Gelar Panggung Rakyat Bentuk Kepedulian terhadap Sosial

Bagaimana jika rekonstruksi Gaza justru menguntungkan pihak tertentu, sementara rakyat Palestina tetap terusir? Apabila hal itu terjadi, Indonesia akan ikut menanggung beban kesalahan moral dan sejarah.

Selain itu, Indonesia disebut harus mengeluarkan dana sebesar Rp17 triliun. Angka ini dinilai sangat besar, terutama ketika kondisi dalam negeri masih menghadapi berbagai persoalan, seperti meningkatnya utang, inflasi, kenaikan pajak, serta kondisi masyarakat di Sumatra, khususnya Aceh, yang belum sepenuhnya pulih.

Pertanyaan pun muncul mengenai prioritas penggunaan anggaran tersebut. Mengapa dana tersebut tidak dialokasikan untuk kepentingan dalam negeri? Mengapa tidak difokuskan pada sektor pendidikan yang anggarannya justru mengalami pemangkasan?

Lebih jauh lagi, hak veto dalam dewan tersebut disebut hanya berada di tangan Presiden Donald Trump sebagai pemimpin dewan. Artinya, keputusan akhir tetap berada pada satu pihak. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana suara negara anggota benar-benar memiliki pengaruh.

Dalam pernyataannya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan, “Perdamaian hanya bisa datang kalau semua pihak mengakui, menghormati, dan menjamin keamanan Israel. Israel pun harus dijamin keamanannya agar perdamaian dapat terwujud.”

Pemerintah dinilai lupa untuk mengadili pelaku kejahatan dan justru menjamin keamanannya, sementara kemerdekaan Palestina tidak diutamakan. Jika negara begitu cepat berbicara soal menjamin keamanan satu pihak, tetapi tidak sama tegasnya dalam menuntut pengadilan bagi pelaku kekerasan, maka wajar apabila publik bertanya.

Apakah Indonesia sedang memperjuangkan kemerdekaan Palestina atau hanya menyesuaikan diri dengan arus kekuatan global? Pada akhirnya, perdamaian bukan hanya tentang siapa yang merasa aman, tetapi juga tentang siapa yang dipulihkan haknya.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyampaikan bahwa tidak akan ada rekonstruksi Gaza sebelum dilakukan demiliterisasi. Hal tersebut disampaikan dalam pidato yang disiarkan di televisi pada 19 Februari 2026.

Padahal, pada 31 Januari 2026, setelah BoP diresmikan, sedikitnya 31 warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza pada Sabtu dini hari. Jika korban terus berjatuhan setelah berbagai janji perdamaian itu, maka persoalannya bukan lagi sekadar diplomasi, melainkan soal keberpihakan. Indonesia pun harus siap mempertanggungjawabkan pilihannya.

 

Penulis: Ainun Naimah

Editor: Sausan Zahra

Tags: #LPM Al Mizan#UINGusdurBoard of Peace
Ainun Naimah

Ainun Naimah

Related Posts

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

24 Agustus 2026
Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

23 Agustus 2026
Ketika Gelar Sarjana Kehilangan Daya Tawarnya

Ketika Gelar Sarjana Kehilangan Daya Tawarnya

23 Agustus 2026
Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

20 Agustus 2026
Resensi Film Tiba-Tiba Setan, Ketika Perburuan Harta Karun Berujung Teror Sungguhan

Resensi Film Tiba-Tiba Setan, Ketika Perburuan Harta Karun Berujung Teror Sungguhan

14 Agustus 2026
Menemukan Diri di Setiap Langkah: Menelusuri Makna Perjalanan dalam Arah Langkah

Menemukan Diri di Setiap Langkah: Menelusuri Makna Perjalanan dalam Arah Langkah

12 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2026

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In