• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Berani Menulis, Berani Menyampaikan Gagasan

by
21 Juni 2018
in Review
0
Berani Menulis, Berani Menyampaikan Gagasan

By: Sabrina

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

Judul              : Menulis Tanpa Rasa Takut

Penulis            : St. Kartono

Penerbit          : Kanisius

Cetakan          : 2016

Tebal              : 70 halaman

ISBN               : 978-979-21-2436-1

ArtikelTerkait

You Can If You Think You Can: Resensi Buku Kebiasaan-Kebiasaan Unik Orang Sukses & Kaya Raya

Membentuk Kebiasaan Baik Dalam Hidup: Resensi Buku Atomic Habits

Mafia Jurnal yang Menulis untuk Jalan-Jalan

Ada sebuah adagium populer dalam dunia kepenulisan yang berbunyi ‘jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah!’. Begitulah kata imam besar Al Ghazali yang begitu simple namun tajam dan mengena bagi yang membacanya.

Walaupun sudah puluhan tahun Al Ghazali mengingatkan dan menganjurkan kita untuk menulis, nampaknya menulis masih dianggap susah khusunya bagi yang tidak terbiasa menulis. Namun menulis akan dianggap mudah bagi yang sudah terbiasa menulis. Menulis itu hak siapapun. “Siapapun bisa menulis asalkan dia banyak membaca dan berfikir,” kata Kartono (hlm 17)

Menulis adalah sebuah aktivitas yang kompleks, bukan hanya sekedar mengguratkan kalimat-kalimat, tetapi lebih daripada itu. Menulis adalah proses menuangkan pikiran dan menyampaikannya kepada khalayak (hlm 17).

Bagi yang hendak menekuni dunia tulis menulis, buku ini dirasa sangat cocok untuk dijadikan panduan menulis. St Kartono menuturan gagasannya dengan simple namun sangat mudah dipahami. Buku yang ditulis oleh kolomnis pendidikan asal Jogja ini terbagi menjadi empat chapter.

Empat chapter tersebut membahas terkait pengetahuan dasar tentang pengertian menulis, manfaat menulis, kelebihan menulis, cara menemukan ide, cara menulis dan tentunya buku ini semacam jadi motivator bagi pembaca untuk lebih giat menulis.

Disamping bahasa yang disampaikan sederhana, halaman yang tidak terlalu tebal, penulis pun memberikan contoh tulisan-tulisannya sehingga mempermudah pembaca dalam memahami isi bukunya. Buku ini bisa dibilang mini namun berisi.

Menulis memang dirasa cukup berat, terutama bagi yang memiliki segudang aktivitas yang tak pernah usai. Namun St Kartono tetap memberikan semangat kepada pembaca buku ini agar giat menulis. Karena menurutnya menulis merupakan sarana untuk menjadikan diri tidak biasa alias luar biasa.

Menulis membutuhkan keberanian karena tulisan harus membawa pencerahan. Dengan berani menulis berarti berani menyampaikan gagasan. Berani menyatakan pendapat meski mungkin bersebrangan dengan arus utama. Bukankah Newtonian, Marxian, hingga Geertzian terus mengalirkan pencerahan yang bahkan mendobrak pendapat arus utama di masa kegelapan? Maka menulislah! Karena menulis hanya perlu tiga modal, yaitu kemauan, pengetahuan, dan ketrampilan.

Seorang penulis bukanlah bertanding melawan orang lain, tetapi berlomba dengan dirinya sendiri. Yang dikalahkan adalah dirinya sendiri yang tidak mampu menyisihkan saldo waktu untuk duduk menulis. Itulah tantangan menulis yang berasal dari dalam diri sendiri (hlm 67).

 

Tags: Gagasaniainpekalonganmenulisresensi

Related Posts

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

24 Agustus 2026
Resensi Film Tiba-Tiba Setan, Ketika Perburuan Harta Karun Berujung Teror Sungguhan

Resensi Film Tiba-Tiba Setan, Ketika Perburuan Harta Karun Berujung Teror Sungguhan

14 Agustus 2026
Menemukan Diri di Setiap Langkah: Menelusuri Makna Perjalanan dalam Arah Langkah

Menemukan Diri di Setiap Langkah: Menelusuri Makna Perjalanan dalam Arah Langkah

12 Agustus 2026
Menepis Stigma, Merajut Kesetaraan: Resensi Buku Menjadi Feminis Muslim

Menepis Stigma, Merajut Kesetaraan: Resensi Buku Menjadi Feminis Muslim

21 Juli 2026
Film Civil War: Membaca Realitas Pahit dari Lensa Jurnalis

Film Civil War: Membaca Realitas Pahit dari Lensa Jurnalis

18 Maret 2026
Resensi Film Love You to Debt

Resensi Film Love You to Debt

14 Februari 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2026

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In