lpmalmizan – Twenty Four Eyes atau Nijushi No Hitomi merupakan salah satu novel best seller karangan Sakae Tsuboi dan pernah difilmkan pada 1954. Sakae Tsuboi dikenal sebagai seorang penulis novel dan puisi yang sudah melahirkan karya sejak masa perang berlangsung. Novelnya sebagian besar menceritakan kisah anak-anak, termasuk novel ini. Menggabungkan unsur drama sosial dan sejarah, novel ini menggambarkan dampak perang dan perubahan sosial pada kehidupan masyarakat biasa. Latar belakang cerita yang berlangsung dari tahun 1920-an hingga pasca-Perang Dunia II menghadirkan refleksi mendalam tentang kehidupan, pendidikan, dan solidaritas manusia di tengah kesulitan.
Cerita dimulai ketika Miss Oishi, seorang guru muda yang modern dan memiliki tekad kuat, ditugaskan mengajar di sebuah sekolah di Desa Tanjung. Â Miss Oishi dipertemukan dengan dua belas murid dengan karakter dan latar belakang yang berbeda-beda. Selama mengajar mereka, Miss Oishi banyak mengenal seputar kehidupan sederhana dan rasa kasih sayang.
Ketika mereka tumbuh dewasa, dampak perang mulai terasa. Beberapa murid menjadi korban perang, sementara yang lain menghadapi berbagai tantangan hidup. Mulai dari keadaan ekonomi yang menurun, musim paceklik, hingga sulitnya mengakses segala fasilitas publik, dari pendidikan sampai kesehatan; para laki-laki yang ditugaskan untuk ikut berperang hingga perempuan yang sedih dan menjadi janda karena kehilangan anak laki-laki serta suaminya. Miss Oishi tetap menjadi figur penting yang mendukung mereka, meskipun situasi kian sulit.
Setelah naik ke kelas lima, untuk pertama kali barulah mereka diperbolehkan pergi ke sekolah desa utama yang jauhnya lima kilometer perjalanan. Sandal jerami buatan tangan yang mereka kenakan pasti rusak setiap hari, namun anak-anak itu justru bangga. (hlm. 1)
Novel ini sedikit banyak mengingatkan kita pada pendidikan di sebagian wilayah di Indonesia sendiri. Masih banyak anak yang harus berusaha lebih keras agar tetap dapat bersekolah, bahkan banyak yang terpaksa harus putus sekolah, atau tidak bisa melanjutkan pendidikan karena keadaan. Ada juga yang harus berjalan kaki berkilo-kilo meter dengan alas kaki seadanya, atau bahkan dengan telanjang kaki menuju sekolah. Mereka rela menempuh segala rintangan, dengan harapan rangkaian mimpi yang mereka jalin akan tercapai suatu saat nanti.
Miss Oishi juga mengingatkan kita pada nasib guru-guru di Indonesia yang rela ditempatkan di wilayah terpencil sekalipun. Seperti Miss Oishi yang rela mengayuh sepeda dua kilometer setiap hari ke sekolah setiap hari tanpa terlambat, ternyata masih banyak guru yang rela naik turun gunung yang terjal, atau menyeberangi hutan-hutan lebat demi membantu mewujudkan seribu impian anak-anak Indonesia. Malah terkadang, karena sulitnya akses menuju sekolah, mereka dengan semangat berjalan kaki setiap hari dengan menyimpan harapan terwujudnya mimpi anak-anak itu.
Di novel ini, Sakae Tsuboi berhasil membuat perasaan pembaca naik turun, mulai dari caranya menggambarkan karakter anak-anak yang lugu dan nakal yang membuat hati menghangat, kemudian rasa sedih dan prihatin yang mulai terasa saat bagian  murid-murid mulai dewasa dan terkena dampak dari perang.
Buku ini berisi pesan anti perang. Namun meskipun begitu, kita tidak akan menemukan penjelasan tentang pandangan cinta damai, atau sekedar jawaban dari pertanyaan,“bagaimana cara kita mencegah perang?’’ disini. Sakae Tsuboi sebagai penulis tidak menjadikan latar tersebut sebagai hal utama yang diceritakan, melainkan dampak peperangan itu terhadap tokoh-tokoh dalam buku. Periode mengenai peperangan juga tidak diceritakan secara gamblang, kapan dan bagaimana. Alur dalam buku ini berjalan sangat lambat dan banyak sekali timeskip yang dibuat. Namun, karena hal itulah kita malah akan lebih dapat memahami karakter dan jalan cerita. Karena mengandung pesan cinta damai dan kasih sayang, novel ini menurut saya cocok dibaca oleh semua kalangan.
Penulis: Alifatul Qaidah
Editor: Dina Fitriana






