• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

Redaksi Al-Mizan by Redaksi Al-Mizan
20 Agustus 2026
in Analisis, Opini
0
Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

Sumber: Pinteret @Felipo Bellini

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Selain tidak keren, mengakhiri hidup setelah mata kuliah filsafat psikologi terdengar cupu. Begitulah isi kepala saya setelah selesai mengerjakan kuis filsafat psikologi.

Nilainya jauh lebih buruk dari 2 kuis sebelum hari ini: setelah 63, 64 dan kali ini 54. Angka itu ditampilkan di depan kelas lewat proyektor, sesaat setelah semua orang selesai submit, dan untungnya momen itu tidak berlangsung lama.

Naas, mata ini rupanya tidak jeli. Kata seorang teman saya, tidak demikian. “Nilaimu 40 sekian,” katanya. Barangkali angka itu adalah ukuran sepatu, pasti lebih mudah diterima.

Dia menjawab pertanyaan teman saya yang lain, yang tadi mengeluh dapat nilai 50-an. “Itu setengah dari nilai loh,” ujarnya, lalu menoleh dan menanyakan nilai saya entah karena saya sedari tadi terlihat baik-baik saja di matanya, atau karena ingin merasa sedikit lebih ringan dengan percaya ada orang lain yang nilainya lebih buruk.

Saya tanggapi dengan senyum dan sedikit, “Haha,” lalu “Ah, mungkin salah lihat,” sebagai penutup. Padahal sebelumnya kami makan siang bersama, membahas beberapa mata kuliah, tugas, sampai rencana liburan sebelum semester baru.

Tapi ternyata semua obrolan itu tidak cukup untuk membalut kenyataan yang baru saja terjadi. Saya merasa menjadi manusia paling bodoh di situ, karena nilai diagung-agungkan dan dituhankan, dan saya membawa seporsi kekalahan.

ArtikelTerkait

Yenny Wahid Bagikan 3 Nilai Utama dan 5 Aksi Nyata di Hadapan Mahasiswa Baru UIN Gusdur Pekalongan

PBAK UIN Gus Dur Digelar Empat Hari, Maba 2026 tak Dipungut Biaya Tambahan

Meriahkan HUT RI, Mahasiswa Baru UIN Gusdur Donasikan Buku sebagai Bentuk Kepedulian Literasi

Saya pulang ke kos bersama dua teman dan tak lupa untuk berterima kasih pada matahari yang teriknya membuat saya berjalan sambil menunduk terlihat wajar.  Padahal kenyataannya saya menunduk bersama kepala yang ramai oleh badai: bayang-bayang masa depan hancur, dan berbagai mimpi buruk lain yang melebur jadi satu.

Kuis akan dilaksanakan lima kali, ini kuis keempat, dan saya yakin tidak ada yang percaya bahwa di kuis pertama nilai saya 90-an. Tersisa satu kesempatan lagi, tapi saya memilih menangis dulu.

Di kamar kos, seorang diri. Saya merasa satu nilai cukup untuk menjelaskan siapa diri ini, kemudian menyalahkan diri saya sendiri, karena hanya diri saya yang bisa saya kontrol, dan saya gagal mengontrolnya.

Tidak perlu waktu bertahun-tahun untuk sadar, karena sedari saya menangis, saya mencoba mengingat kembali kejadian pahit sebelum tiba di kos. Asumsi bahwa teman saya diam-diam memberi penilaian kepada saya itu sebenarnya tidak nyata.

Tidak benar-benar terucap, tapi ada luka yang tertancap di sana. Saya hidup dari cerita yang saya percaya dan hari itu melelahkan, menyakitkan, jauh dari kata terkenang.

Dan saya menemukan kesadaran itu bukan di ruang kuliah, melainkan di atas panggung stand-up comedy yang belakangan ini menemani makan malam saya.

Selama ini kita sering percaya bahwa hidup dibentuk oleh apa yang kita alami. Kita menyalahkan masa lalu, keadaan, orang-orang yang datang lalu pergi, atau keputusan yang tidak membawa kita ke tempat yang kita bayangkan.

Seolah semua itu otomatis menentukan siapa diri kita hari ini. Tapi semakin saya mengamati orang-orang di sekitar saya dan tentu saja diri saya sendiri, saya mulai curiga bahwa yang paling menentukan hidup seseorang bukan apa yang pernah terjadi padanya, melainkan cerita yang terus ia ulang tentang apa yang pernah terjadi.

Namun, bagaimana dengan para komika yang mampu mengubah pengalaman yang menyedihkan seperti kegagalan, penolakan, ketidakadilan, yang dulu membuat seseorang menangis, kesal, kecewa, dan menjadikannya luka lalu beberapa tahun kemudian dapat ia ceritakan di atas panggung dan membuat ratusan orang tertawa.

Apakah karena waktu yang menyembuhkan? Atau mungkin karena para komika memang pada dasarnya lucu?

Meskipun belum pernah menonton secara langsung di tour stand up comedy, namun dengan mengonsumsi konten stand-up comedy terutama milik Raditya Dika yang di unggah di YouTube resmi Raditya Dika, Stand Up Kompas TV, STANDUPINDO maupun platform lainnya saya merasa yang terjadi di atas panggung jauh lebih rumit daripada sekadar melontarkan lelucon.

Raditya Dika berkali-kali menjadikan pengalaman yang bagi sebagian orang ingin segera dilupakan sebagai bahan cerita: keresahan sebagai seorang introvet yang tidak memiliki banyak teman semasa sekolah, mendapatkan penolakan saat menembak cewek, salah tingkah saat jatuh cinta, sampai kegagalan-kegagalan kecil yang dulu mungkin terasa memalukan.

Anehnya, semakin pahit cerita seorang komika, semakin keras pula tawa penontonnya. Raim Laode dalam podcast ABG SINIAR pernah menyebut stand-up comedy sebagai cara bersyukur terhadap hidup.

Baginya, pengalaman yang paling menyebalkan pun selalu menyimpan kemungkinan untuk menjadi materi panggung. Kalimat itu membuat saya sadar, mungkin rasa syukur bukan berarti hidup selalu baik-baik saja.

Kadang, rasa syukur muncul ketika kita berhasil memberi kesempatan kedua pada pengalaman yang semula hanya berisi luka. Di situlah saya mulai bertanya, mengapa manusia bisa tertawa atas sesuatu yang pernah membuatnya terluka? Bahkan mensyukuri kehadirannya.

Ah baiklah, kali ini filsafat hadir sebagai penyelamat. Tanpa disadari, apa yang dilakukan Radit dan Raim mengingatkanku pada Epictetus.

Hampir dua ribu tahun lalu, filsuf Stoa itu menulis bahwa bukan peristiwa yang mengganggu manusia, melainkan penilaiannya terhadap peristiwa tersebut. Kalimat itu sering disalahpahami seolah-olah Stoikisme mengajak kita mengabaikan penderitaan.

Padahal bukan demikian, Epictetus tidak pernah berkata bahwa rasa sakit tidak nyata. Ia hanya mengingatkan bahwa setelah sebuah peristiwa selesai terjadi, masih ada satu hal yang tetap menjadi milik kita, yaitu cara kita memberi makna terhadapnya.

Semakin dipikirkan, para komika diam-diam sedang mempraktikkan Stoikisme tanpa pernah menyebut nama Epictetus. Mereka tidak bisa mengubah masa lalu.

Mereka tidak bisa menghapus penolakan. Mereka tidak bisa memperbaiki keluarga yang berantakan, pengalaman di-bully, atau kegagalan yang pernah dialami.

Tetapi mereka masih memiliki satu kebebasan yang tidak bisa dirampas siapa pun, yaitu kebebasan memilih bagaimana cerita itu akan diceritakan kembali. Dan ternyata, perubahan cara bercerita mampu mengubah hubungan seseorang dengan lukanya.

Menariknya, penonton tidak sedang menertawakan penderitaannya, namun penonton juga memiliki makna tersendiri. Kita tertawa bukan karena penderitaan orang lain itu lucu, kita tertawa karena mengenali sebagian diri kita di dalam cerita tersebut.

Hampir setiap orang pernah merasa gagal, ditolak, atau bingung terhadap hidupnya. Ketika pengalaman itu diceritakan dengan jujur, tawa menjadi semacam pengakuan diam-diam bahwa kita tidak sendirian.

Peristiwanya tetap sama yang berubah hanyalah sudut pandangnya. Saya mulai curiga, stand-up comedy bukan sekadar seni membuat orang tertawa.

Ia adalah seni mengedit ulang cerita tentang hidup, ia sedang mengolah pengalaman pahitnya menjadi cerita yang dapat diterima, bukan hanya oleh penonton, tetapi juga oleh dirinya sendiri.

Seorang komika tidak menghapus masa lalunya. Ia tidak berpura-pura semua baik-baik saja. Justru sebaliknya, ia membuka kembali pengalaman yang pernah membuatnya rapuh, menyusunnya dengan cara baru, lalu mengundang ratusan orang asing untuk melihatnya dari sudut yang sama.

Luka yang dulu hanya bisa melahirkan tangis kini diberi kesempatan kedua untuk hidup sebagai tawa. Stand up comedy menjadi lebih luas dari yang saya nikmati sebelumnya. Selain dihidangkan dengan humor, di balik itu ada keberanian mengambil jarak dari pengalaman yang pernah menghancurkan para komika.

Saat sebuah luka masih menguasai kita, kita berada di dalam cerita itu. Kita adalah tokoh utamanya, namun ketika suatu hari kita mampu menceritakannya sambil tersenyum atau bahkan membuat orang lain tertawa kita perlahan berpindah posisi.

Kita bukan lagi sekadar tokoh. Kita menjadi penulisnya dan penulis selalu memiliki hak untuk mengedit naskah. Barangkali itulah mengapa tawa terasa melegakan.

Bukan karena ia menghapus rasa sakit, melainkan karena untuk beberapa saat rasa sakit itu berhenti menjadi penguasa. Saya kembali mengingat angka 54 itu, kalau dipikir sekarang, penyebab yang membuat saya menangis semalaman ternyata bukan nilai tersebut.

Melainkan cerita yang buru-buru ditulis setelah melihatnya. Cerita bahwa saya bodoh. Cerita bahwa masa depan saya selesai. Cerita bahwa satu angka mampu mendefinisikan seluruh hidup saya.

Hari ini saya tahu, semua itu hanyalah draft pertama. Mungkin itulah yang diam-diam diajarkan panggung stand-up comedy: setiap luka berhak memperoleh kesempatan kedua. Bukan kesempatan untuk dihapus, melainkan kesempatan untuk diceritakan ulang.

Kalau suatu hari nanti angka 54 itu benar-benar menjadi materi stand-up yang membuat orang tertawa, mungkin saat itulah ia akhirnya gagal menjadi tragedi. Sebab pada akhirnya, hidup barangkali tidak melulu ditentukan oleh apa yang terjadi kepada kita.

Hidup ditentukan oleh cerita mana yang kita pilih untuk terus kita percayai dan seberapa berani kita memberi cerita itu kesempatan kedua untuk naik ke panggung.

 

Penulis: Sabrina Firda Amalia
Editor: Achmad Bagas Pranata

Tags: #LPM Al Mizan#Stoa#UINGusdur
Redaksi Al-Mizan

Redaksi Al-Mizan

Related Posts

Resensi Film Tiba-Tiba Setan, Ketika Perburuan Harta Karun Berujung Teror Sungguhan

Resensi Film Tiba-Tiba Setan, Ketika Perburuan Harta Karun Berujung Teror Sungguhan

14 Agustus 2026
Menemukan Diri di Setiap Langkah: Menelusuri Makna Perjalanan dalam Arah Langkah

Menemukan Diri di Setiap Langkah: Menelusuri Makna Perjalanan dalam Arah Langkah

12 Agustus 2026
Mencintai Kegagalan: Memaknai Lagu “Sementara” Karya Barasuara Lewat Kacamata Stoikisme

Mencintai Kegagalan: Memaknai Lagu “Sementara” Karya Barasuara Lewat Kacamata Stoikisme

1 Agustus 2026
Menepis Stigma, Merajut Kesetaraan: Resensi Buku Menjadi Feminis Muslim

Menepis Stigma, Merajut Kesetaraan: Resensi Buku Menjadi Feminis Muslim

21 Juli 2026
Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

17 Juli 2026
Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2026

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In