lpmalmizan – Syafaat Bubur Suro 2026 meriahkan suasana Tahun baru Hijriah di Kota Pekalongan. Acara ini digelar pada Jumat–Minggu (10–12/7) di Lapangan Leo, Kelurahan Krapyak.
Acara tahun ini menjadi lebih istimewa dengan kolaborasi antara Pemerintah Kota Pekalongan (Pemkot Pekalongan), Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal (KPw BI) dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).
Dengan mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Regional Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital”, kolaborasi ini menjadi sarana edukasi literasi keuangan dan wisata ramah muslim bagi masyarakat.
Ikon utama dan daya tarik festival ini adalah Bubur Suro yang akan dimasak selama tiga hari, sebagai hidangan khas Bulan Suro. Pada hari Minggu (12/7) mendatang, tepat di puncak acara Syafaat Bubur Suro 2026, akan dibagikan 5000 porsi bubur suro kepada masyarakat secara gratis.
Keunikan pembuatan Bubur Suro tahun ini terdapat pada bahan baku yang digunakan. Pembuatan bubur suro tahun ini menggunakan beras dari padi salin yang dipanen langsung dari program wakaf produktif di Pekalongan.
Balqis Diab, Wakil Walikota Pekalongan, secara resmi membuka festival tahunan ini. Ia mengapresiasi kekompakan warga Krapyak yang terus melestarikan budaya ini selama tujuh tahun terakhir.
”Mari kita jadikan momentum ini sebagai penyemangat untuk memperkuat persaudaraan dan meningkatkan kepedulian sosial,” pungkasnya.
Pembukaan acara bersamaan dengan diluncurkannya qris wakaf, hal ini merupakan misi serius sebagai pelopor kota wakaf dan sebagai bukti nyata upaya serius Pemkot Pekalongan. Misi besar Kota Pekalongan menjadi kota wakaf sudah dibuktikan dengan adanya qris wakaf dan berbagai wakaf produktif lainnya.
Muhammad Andi Arslan Djunaid, Ketua MES Pekalongan Raya, mengharapkan dengan adanya festival besar di Krapyak seperti Festival Bubur Suro dan Lopis Raksasa, dapat menjadi pelopor sebagai kota dengan destinasi pariwisata ramah muslim.
“Kita berharap ke depan event ini bisa dikemas dan dibranding secara nasional agar bisa mengangkat ekonomi UMKM di Krapyak dan Pekalongan secara umum,” tutur Andi.
Dengan adanya momentum acara ini, mempertegas keinginan MES dalam mengembangakn wisata ramah muslim. Dengan kolaborasi antara KPw BI dan MES, mereka melihat potensi besar Kota Pekalongan sebagai Kota Wisata Ramah Muslim.
Melihat jejak histori Islam di Kota Pekalongan yang saat ini sudah terintegrasikan dengan budaya dan tradisi lokal. Ditambah dengan ekosistem halal dari berbagai sektor seperti kuliner, fesyen, hingga pariwisata tidak menutup Pekalongan sebagai Kota Wisata Ramah Muslim.
Ketua Panitia, Bapak Iskandar, melaporkan bahwa cara dimeriahkan dengan adanya bazaar kuliner UMKM hingga 70 tenant binaan BI dan MES. Berbagai kompetisi ikut meramaikan keseruan festival kali ini, mulai dari lomba memasak kudapan halal, lomba mewarnai, lomba hadrah, hingga lomba burung berkicau.
Penulis dan tim liputan: Khalifatun Nisa
Editor: Achmad Bagas Pranata






