• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Prabowo Soal Rupiah Melemah: Warga Desa Tidak Menggunakan Dollar

Kambang Muhammad Syahdan by Kambang Muhammad Syahdan
20 Mei 2026
in Analisis, Opini
0
Prabowo Soal Rupiah Melemah: Warga Desa Tidak Menggunakan Dollar

Sumber: Jendela Satu

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan publik setelah pernyataannya mengenai pelemahan nilai tukar rupiah ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam peresmian Museum Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Prabowo menyinggung kondisi rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dan menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dollar dalam kehidupan sehari-hari.

“Mau dollar naik berapa pun, rakyat di desa enggak pakai dollar,” ujar Prabowo di hadapan masyarakat dan tamu undangan (16/5/26)

“Yang penting rakyat bisa makan, harga kebutuhan pokok terjangkau, dan ekonomi desa tetap berjalan,” lanjut Prabowo saat menjelaskan pandangannya mengenai kondisi ekonomi masyarakat pedesaan.

Pernyataan tersebut kemudian memicu beragam tanggapan publik, terutama di media sosial. Sebagian masyarakat menilai ucapan Prabowo menggambarkan realitas kehidupan warga desa yang memang sehari-hari tetap menggunakan rupiah dalam aktivitas ekonomi mereka.

Namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang mengkritik pernyataan tersebut. Sejumlah warganet menilai pelemahan rupiah tetap memiliki dampak terhadap masyarakat kecil meskipun mereka tidak pernah menggunakan dollar secara langsung dalam transaksi sehari-hari.

Perdebatan mengenai pernyataan tersebut pun berkembang luas dan menjadi salah satu isu ekonomi yang ramai diperbincangkan publik. Pengamat ekonomi menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah tetap dapat memengaruhi kehidupan masyarakat desa secara tidak langsung.

ArtikelTerkait

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Syafaat Bubur Suro 2026, Kolaborasi Budaya Krapyak dan Ekonomi Syariah

Dorong Penghijauan Kampus di UIN Gus Dur, Menteri Agama Berikan Pembinaan Ekoteologi

Banyak kebutuhan pokok dan sektor industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor. Ketika rupiah melemah terhadap dollar Amerika Serikat, biaya impor meningkat sehingga harga barang di pasaran ikut mengalami kenaikan.

Kenaikan harga pupuk, bahan bakar, obat-obatan, hingga kebutuhan pangan tertentu dinilai menjadi contoh dampak tidak langsung dari pelemahan rupiah. Karena itu, sebagian masyarakat menilai kondisi nilai tukar tetap memiliki pengaruh terhadap kehidupan ekonomi warga desa walaupun mereka tidak menggunakan dollar dalam transaksi sehari-hari.

Di sisi lain, ada pula pihak yang membela pernyataan Prabowo. Mereka menilai Presiden sedang mencoba menekankan bahwa fondasi ekonomi masyarakat Indonesia, khususnya di pedesaan, masih bertumpu pada aktivitas ekonomi lokal yang menggunakan rupiah.

Kehidupan masyarakat desa dianggap lebih dekat dengan sektor pertanian, perdagangan tradisional, dan usaha kecil dibandingkan aktivitas ekonomi internasional. Pernyataan tersebut juga memunculkan diskusi mengenai pentingnya memperkuat ekonomi domestik Indonesia.

Sejumlah ekonom menilai pemerintah perlu mengurangi ketergantungan terhadap impor agar gejolak nilai tukar rupiah tidak terlalu berdampak besar terhadap harga kebutuhan masyarakat. Penguatan sektor pertanian, industri nasional, dan usaha mikro dinilai menjadi langkah penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Selain itu, pemerintah juga diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil. Sebab bagi masyarakat kecil, persoalan utama bukan hanya nilai tukar rupiah terhadap dollar, melainkan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti harga sembako, biaya transportasi, pendidikan, dan kesehatan.

Di media sosial, perdebatan mengenai ucapan Prabowo terus berkembang. Ada yang menganggap pernyataan tersebut realistis dan dekat dengan kondisi masyarakat desa, tetapi ada juga yang menilai ucapan itu kurang sensitif terhadap tekanan ekonomi yang sedang dirasakan sebagian masyarakat.

Pengamat politik menilai polemik ini menunjukkan bahwa pernyataan pejabat negara mengenai ekonomi sangat mudah menjadi perhatian publik. Di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, masyarakat menjadi lebih sensitif terhadap isu harga kebutuhan pokok dan kondisi nilai tukar rupiah.

Sebagian masyarakat juga berharap pemerintah dapat memberikan penjelasan yang lebih rinci mengenai kondisi ekonomi nasional agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Komunikasi publik yang jelas dinilai penting supaya masyarakat memahami bahwa pelemahan rupiah memiliki dampak berbeda bagi setiap kelompok ekonomi, baik di perkotaan maupun pedesaan.

Selain itu, sejumlah pengamat menilai pemerintah perlu lebih fokus menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok agar masyarakat kecil tidak semakin terbebani. Sebab bagi warga desa, persoalan ekonomi lebih banyak dirasakan melalui naik atau turunnya harga barang kebutuhan sehari-hari dibandingkan perubahan kurs mata uang asing.

Polemik mengenai ucapan Prabowo juga menunjukkan bahwa masyarakat kini semakin kritis terhadap isu ekonomi nasional. Pernyataan pejabat publik dapat dengan cepat menjadi bahan diskusi luas di media sosial, terutama ketika berkaitan dengan kondisi kehidupan masyarakat sehari-hari.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan kepada publik agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda. Sebagian kalangan berharap pemerintah tidak hanya fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, tetapi juga memastikan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga.

Menurut mereka, masyarakat kecil lebih merasakan dampak ekonomi melalui harga kebutuhan pokok dan kesempatan kerja dibandingkan fluktuasi nilai tukar semata. Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, pernyataan Prabowo memperlihatkan bahwa persoalan ekonomi tidak hanya dipahami melalui angka statistik dan kurs mata uang, tetapi juga melalui pengalaman hidup masyarakat sehari-hari.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu memastikan kebijakan ekonomi tidak hanya menjaga stabilitas nasional, tetapi juga benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil di berbagai daerah Indonesia.

 

Penulis: Kambang Muhammad Syahdan

Editor: Naela Azkiya

Tags: #dollar#LPM Al Mizan#Prabowo#UINGusdurrupiah
Kambang Muhammad Syahdan

Kambang Muhammad Syahdan

Related Posts

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

17 Juli 2026
Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026
Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

Putusan MK: Jakarta Masih Ibu Kota, Tanda Pemerintah Belum Siap Sepenuhnya

21 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In