• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Kematian Ali Khameni: Harga Nyata Penderitaan Rakyat Sipil di Balik Agresi Militer

Muslimah by Muslimah
2 Maret 2026
in Analisis, Opini
0
Kematian Ali Khameni: Harga Nyata Penderitaan Rakyat Sipil di Balik Agresi Militer

Sumber: Pinterest

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Kematian Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Republik Islam Iran atas serangan militer gabungan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel pada (28/2/16) menunjukkan kegagalan diplomasi multilateral. Tak hanya menewaskan Ali Khamenei, serangan yang menyasar pusat komando Iran ini juga menggugurkan lingkaran elite pertahanan negara tersebut.

Sebagaimana turut dilaporkan beberapa nama yang menjadi korban serangan. Akibatnya konsekuensi fatal dari pendekatan militer terhadap penyelesaian konflik, justru memperpanjang perang dan penderitaan rakyat sipil.

Pernyataan ini bukan tanpa sebab, sejarah mencatat bahwa hubungan Iran dan Amerika Serikat pernah menempuh jalur diplomasi. Salah satunya pada 2015, melalui Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), Iran dan pilar kekuatan dunia termasuk Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan program nuklir dengan mekanisme multilateral.

Kesepakatan tersebut menjadi bukti bahwasanya konflik yang kompleks sekalipun tetap dapat diredam tanpa peluru dan rudal. Diplomasi multilateral sendiri mengedepankan dialog antar negara dalam sebuah forum, untuk menyelesaikan isu global dengan tercapainya kesepakatan yang adil dan mengikat bagi setiap pihak yang bersangkutan.

Namun, ketika komitmen diplomatik melemah dan pendekatan berdasarkan pada paksaan kembali diprioritaskan, akhirnya ruang dialog menyempit. Penarikan diri sepihak dari kesepakatan dan tekanan politik yang meningkat, juga memperlihatkan bagaimana kekuatan militer kerap dipilih sebagai alat utama dalam kebijakan luar negeri.

Jika serangan terhadap pemimpin Iran benar terjadi dalam konteks tersebut, maka hal ini menandai runtuhnya diplomasi sebagai jalan utama dalam penyelesaian konflik. Dalam dinamika politik internasional, mustahil mengharapkan Iran untuk tidak melancarkan serangan balasan.

ArtikelTerkait

Cahaya Sendiri Meraung Gelap

LPM Al-Mizan Gelar Diklat Jurnalistik Dasar sebagai Tahap Awal Pengkaderan

Bahaya Mikroplastik, Mengapa Kita Harus Peduli?

Serangan terhadap simbol kedaulatan negara hampir pasti memicu serangan balasan. Eskalasi semacam ini berpotensi memperluas konflik, menyeret aktor-aktor regional lain, dan membuka kemungkinan perang terbuka dengan skala yang lebih besar.

Dampaknya tidak hanya bersifat geneopolitik, tetapi juga merambat pada sisi kemanusiaan dan ekonomi. Iran berada kawasan strategis dekat Selat Hormuz yang mana 20% distribusi energi global melewati kawasan tersebut.

Ketika konflik berkepanjangan terjadi, gangguan terhadap produksi dan distribusi minyak tidak terhindarkan. Dampaknya dapat berupa lonjakan harga energi yang memicu inflasi global, mengganggu stabilitas ekonomi banyak negara, serta memperburuk kondisi sosial masyarakat dunia.

Di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat, memunculkan ruang bagi aktor-aktor berkepentingan, baik elite politik maupun ekonomi global untuk mempengaruhi kestabilan harga dan pengendalian terhadap pasokan energi demi keuntungan strategis. Dalam situasi seperti ini, masyarakat sipil menjadi pihak yang paling dirugikan, karena apa?

Mereka yang akan menghadapi ketidakpastian ekonomi, ancaman keamanan, bahkan risiko terburuknya adalah kehilangan nyawa. Pada dasarnya sejarah memang telah mencatat keberhasilan diplomasi multilateral dalam meredam konflik antar negara ini.

Namun, apabila pendekatan militer terus dipilih sebagai solusi utama, dunia akan menghadapi risiko eskalasi yang jauh lebih luas. Ketika kekuatan besar saling berhadapan secara langsung, kemungkinan adanya konflik global tidak lagi sekadar wacana.

Dan seperti yang selalu terjadi dalam sejarah perang, korban paling masifnya bukanlah para pemimpin ataupun sang pengampu kebijakan, melainkan masyarakat sipil dan bahkan anak-anak yang tidak pernah memilih peperangan itu sendiri. Pada akhirnya, perang ini bukan sekadar siapa yang paling hebat dalam melancarkan serangan dengan senjata, melainkan kegagalan kemanusiaan dalam mengedepankan moral.

Ketika ruang dialog disisihkan, yang runtuh bukanlah sekadar bangunan politik. Tetapi juga harapan masyarakat untuk dapat menjalankan kehidupannya dengan damai dan bermartabat.

 

Penulis: Muslimah

Editor: Sausan Zahra

Tags: #LPM Al Mizan#UINGusduragresi militer
Muslimah

Muslimah

Related Posts

Membuka Entrok Karya Okky Madasari

Membuka Entrok Karya Okky Madasari

19 September 2026
“Ya Namanya Juga Mahasiswa”: Ketika Begadang dan Stres Dinormalisasi

“Ya Namanya Juga Mahasiswa”: Ketika Begadang dan Stres Dinormalisasi

15 September 2026
Ketika Kamu Terus Dibuat Merasa Bersalah

Ketika Kamu Terus Dibuat Merasa Bersalah

7 September 2026
Resensi Film Ghost in the Cell, Ketika Napi Beringas Berlomba Jadi Orang Baik demi Bertahan Hidup

Resensi Film Ghost in the Cell, Ketika Napi Beringas Berlomba Jadi Orang Baik demi Bertahan Hidup

5 September 2026
Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

24 Agustus 2026
Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

23 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2026

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In