lpmalmizan – Hari itu langit terlihat sedikit mendung, awan yang biasanya berwarna putih bersih berubah menjadi abu-abu. Aku dan temanku, Tia baru saja keluar kelas, menunggu temanku yang yang lain, yang katanya akan menebeng motorku untuk pulang. Cukup lama aku menunggu, tapi temanku ini tidak kunjung datang. Lalu kuputuskan untuk menelfonnya.
“ Hallo, kamu dimana ?” ucapku segera setelah panggilanku diangkat.
“Oh iya aku di parkiran mba.” Terdengar suara menyahuti perkataanku, tetapi suara itu bukan berasal dari seberang telfon melainkan berasal dari arah lain. Ku tolehkan kepalaku untuk melihat darimana sumber suara itu berasal. Kulihat di sana terdapat dua laki-laki, aku dan Tia berpikir apakah tadi mereka yang menyahuti ucapanku? Di tengah kebingunganku dan Tia, tiba-tiba dua laki-laki itu menghampiriku menggunakan sepeda motor.
“Mba kamu bukan orang sini ya?” tanya salah satu laki-laki itu kepadaku.
“Bukan Mas,” Jawabku sambil menggeleng.
“Hei, kok kamu berani tanya-tanya sih?” ucap laki-laki yang satunya sambil menyikut lengan temannya. Yang bersangkutan hanya tertawa nyengir saja sebagai jawaban.
“Semester berapa mba kalau boleh tau?” tanyanya lagi kepadaku.
“Semester 4 Mas,” jawabku seadanya. Lalu dilanjut dengan pertanyaan tamplate seperti orang yang baru berkenalan pada umumnya. Lalu setelahnya mereka pamit karena akan pergi ke tempat fotocopy. Ku iyakan saja karena aku juga ingin menjemput temaku yang ku telfon tadi. Tapi sebelum benar-benar pergi, mas-mas tadi kembali bertanya padaku, “Namanya siapa mba?” tanyanya padaku.
“Cantika Mas.” Jawabku sambil tersenyum. Setelah itu aku pergi untuk menemui temanku dan beranjak untuk pulang kerumah. Saat di jalan aku tidak sengaja bertemu dengan mereka lagi, mereka menyapaku dengan ramah.
Sesampainya di rumah, tiba-tiba notif handphoneku berbunyi. Kulihat notif itu melalui bubble, terdapat dua akun yang mengfollowku. Ku buka dan ternyata dua akun itu adalah Mas-Mas tadi yang kutemui di kampus. Termenung sebentar memikirkan apa yang harus ku lakukan, akhirya ku putuskan untuk follback saja karena tidak enak, pasalnya mereka adalah kakak tingkatku di kampus. Tak berselang lama, tiba-tiba masuk notif DM dari dua Mas-Mas tadi. Kami saling berbalas pesan melalui DM Instagram, cukup sering kami berhubungan melalui DM. Owhh iya, namanya Mas Yanuwar dan Anwar. Tapi aku lebih sering bertukar pesan dengan Mas Yanuwar. Sampai suatu saat, tiba-tiba dering telfonku berbunyi, tertera nama seseorang yang sering berhubungan denganku akhir-akhir ini. Ku angkat panggilan itu, kami mengobrol cukup lama, hampir 2 jam lamanya. Membicarakan berbagai macam topik, mulai dari di mana rumahku, lulusan sekolah mana, dan lain-lain.
“Ca, aku boleh main ke rumahmu nggak?” tanya Mas Yanuwar tiba-tiba. Aku terkejut mendengarnya. “Mau ngapain?” tanyaku bingung.
“Aku kan tukang paket mba, mau antar paket ke rumah kamu hehe”. Jawabnya dengan sedikit bercanda. Aku hanya tertawa menanggapinya, padahal aku tau itu hanya alasan saja. Setelah itu pembicaraan kami selesai, kami berbicara melalui telfon cukup lama ternyata.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Tiba-tiba telfonku kembali berbunyi, nama “Mas Yanuwar” tertera disana.
“Hallo mas ada apa?” tanyaku padanya. “Aku di depan rumahmu nih.” Jawabnya. Aku terkejut, bagaimana bisa dia tiba- tiba sudah berada di depan rumahku. Mana aku masih kucel begini, duh bikin malu aja.
Setelah mencuci muka dan merapihkan pakaian yang kupakai, aku menghampiri Mas Yanuwar yang sudah menungguku di depan rumah. “Maaf ya Mas, aku masih kucel gini, soalnya abis bangun tidur” ucapku sedikit malu-malu.
“Nggak papa kok Ca. Kamu masih cantik.” Ucapnya sambil tersenyum. Aku hanya tersenyum malu.
Kami mengobrol cukup lama, Mas Yanuwar juga orang yang asik saat diajak berbicara, cukup humoris dan juga memiliki banyak topik pembicaraan. Jujur saja aku merasa nyaman saat berbicara dengan Mas Yanuwar. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Mas Yanuwar pun pamit untuk pulang.
Waktu berlalu cukup cepat, tak terasa kami sudah dekat selama beberapa bulan. Namun, hubungan kami masih belum ada kejelasan. Mas Yanuwar masih sering menghubungiku, kami juga seringkali keluar ataupun pergi jalan-jalan berdua. Pernah suatu ketika, Mas Yanuwar mengajakku untuk bertemu dengan orangtuanya. Orangtua Mas Yanuwar cukup baik, tidak seperti apa yang aku bayangkan. Padahal sebelumnya aku sudah membayangkan bahwa mereka tidak akan suka denganku, tapi nyatanya semua pikiran burukku itu hilang karena mereka menyambutku dengan sangat ramah. Aku sempat terkejut ketika Ibu Mas Yanuwar mengatakan bahwa Mas Yanuwar sering bercerita tentangku kepadanya. Jujur saja aku merasa malu dan juga sedikit salah tingkah. Entahlah intinya hari itu aku merasa sangat senang dan bahagia bisa bertemu dengan mereka.
Meskipun hubungan kami bisa dibiang cukup dekat, tapi tetap belum ada kepastian dalam hubungan kami. Sempat beberapa waktu hubunganku dan Mas Yanuwar mengalami kerenggagan. Kami sempat lost contact selama beberapa bulan karena pada saat itu aku sempat dekat dan berpacaran dengan seseorang. Meskipun begitu, Mas Yanuwar dan aku masih sempat saling berkabar namun sudah tidak seintens dulu.
Namun, ternyata hubunganku dengan pacarku tidak berjalan cukup lama, kami akhirnya putus dan aku kembali dekat dengan Mas Yanuwar. Jujur saja kami tidak merasa canggung sama sekali meskipun hubungan kami sempat renggang saat aku berpacaran dengan orang lain. Terkadang aku merasa cukup bingung dengan keadaan hubungan kami. Aku merasa kami memang saling menyukai satu sama lain, tapi entah mengapa rasanya Mas Yanuwar adalah tipe orang yang tidak ingin menjalin suatu hubungan seperti berpacaran.
Dibalik semua itu, Mas Yanuwar merupakan sosok yang sangat baik, dia selalu welcome dan ada disaat aku merasa kesepian dan butuh teman. Dia adalah orang yang selalu ada di saat aku butuh tempat untuk cerita, dia selalu siap mendengarkan semua ceritaku.
Berkali-kali aku mencoba untuk menjalin hubungan dengan orang lain, tetapi selalu gagal. Dan pada akhirnya aku selalu kembali dengan orang yang sama. Etahlah meskipun hubungan kami tidak jelas tapi jujur saja aku memang benar-benar mencintainya.
Hingga beberapa bulan terkahir, kami sudah jarang bertukar kabar, jarang berkomunikasi dan jarang bertemu kembali. Semenjak ayahnya meninggal, Mas Yanuwar memilih untuk lebih fokus pada pekerjaan dan juga ibunya. Aku tentu saja tidak mempermasalahkan hal itu. Justu aku mendukung akan keputusannya.
Sekarang aku sudah ikhlas, jika memang dia jodohku pasti akan kembali lagi, pasti akan dipertemukan kembali. Dan hingga saat ini aku masih membuka hatiku, belum ada niatan untuk menutup hati dan berusaha melupakan. Namun, aku sadar jika terus menunggu itu hanya akan membuatku jauh lebih terluka. Jika memang suatu saat dia akan bertemu dengan jodohnya, aku akan mengikhlaskan dan mencoba bahagia untuknya. Untuk saat ini, kurasa aku hanya akan mengaguminya saja, tidak lebih dari itu. Karena sebaik-baikya tempat berharap memang bukan pada manusia. Manusia memang tempat terburuk untuk menaruh harapan, tetapi bukan berarti kita tidak bisa menaruh perasaan.
Penulis: Dewi Nur Istiqomah
Editor: Alifatul Qaidah






