• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Siklus Kepahlawanan Semu dalam Panggung Keadilan

Ibnu Salim by Ibnu Salim
5 Agustus 2025
in Analisis, Opini
0
Siklus Kepahlawanan Semu dalam Panggung Keadilan
Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Saat ini, publik menerima kabar yang terasa melegakan sekaligus menyisakan kegelisahan: Presiden Prabowo Subianto memberikan abolisi kepada Thomas Lembong setelah mendapatkan persetujuan dari DPR. Dengan keputusan tersebut, Tom tidak hanya bebas dari hukuman, tetapi seluruh perkaranya dianggap tidak pernah ada.

Tom kini bersih. Tidak pernah bersalah. Bebas sepenuhnya dan kembali ke rumah setelah sembilan bulan dipisahkan dari keluarga. Tentu, ini menjadi momen haru bagi keluarganya dan kabar menggembirakan bagi para sahabatnya.

Namun, jika kita melihat lebih dalam, kabar ini justru memperlihatkan pola yang terus berulang dalam sistem pemerintahan kita. Ketika muncul sebuah kasus lalu ada tekanan dari publik, pemerintah tiba-tiba hadir sebagai pahlawan. Penyelesaian dilakukan secara ekstra-yudisial, dengan memanfaatkan celah konstitusional yang sah, tetapi sebetulnya bukan menyelesaikan persoalan keadilan di akarnya.

Pertanyaannya adalah: mengapa sistem hukum kita kembali gagal sejak awal? Mengapa harus menunggu presiden untuk menyelamatkan seseorang dari proses yang sejak awal sudah janggal? Di sinilah keadilan seolah sedang dipermainkan. Dipertontonkan sebagai drama penyelamatan, padahal para pelaku dalam drama itu berasal dari lingkaran yang sama.

Abolisi memang menyelamatkan Tom. Tapi bagaimana dengan mereka yang tidak seberuntung dia? Mereka yang tidak punya nama besar, tidak punya akses politik, tidak mendapat sorotan media, dan tidak punya jejaring elite. Apakah mereka akan mendapat pembelaan yang sama? Atau justru akan terbenam dalam ketidakadilan yang sunyi?

Negara ini terlalu besar untuk membiarkan hukum menjadi alat mainan kekuasaan. Seharusnya, hukum menjadi pelindung, bukan tekanan. Menjadi penjamin ketenangan, bukan penyebar kecemasan. Tapi yang terjadi hari ini adalah sebaliknya. Keadilan hanya hadir ketika ada suara keras dari publik dan ketika penguasa merasa perlu tampil sebagai penyelamat.

ArtikelTerkait

Membuka Entrok Karya Okky Madasari

“Ya Namanya Juga Mahasiswa”: Ketika Begadang dan Stres Dinormalisasi

Warga Tuntut PTDH Guru Imbas Dugaan Asusila di Sekolah

Kita sudah terlalu sering melihat pola ini. Ketika tekanan datang, ketika keraguan publik makin besar, maka muncullah tokoh penguasa yang bertindak seolah sebagai pahlawan. Penyelamat ini muncul di akhir cerita, namun mengabaikan fakta bahwa kehadirannya diperlukan sejak awal untuk mencegah tragedi itu sendiri.

Ironisnya, banyak dari kita menyambut langkah itu dengan rasa syukur. Kita bersorak melihat seseorang bebas tanpa mempertanyakan mengapa ia bisa dijerat sejak awal. Padahal, dalam banyak kasus, masalah itu muncul karena kelalaian sistem hukum dan politik yang dikelola oleh orang-orang yang sama.

Inilah yang disebut kepahlawanan semu. Mereka menciptakan masalah, lalu hadir sebagai pemadam kebakaran. Di atas panggung media, mereka tampil sebagai figur penyelamat. Padahal mereka bagian dari sistem yang memproduksi luka.

Tom memang berhak atas kebebasannya. Ia layak untuk kembali kepada keluarganya dan melanjutkan hidup. Tapi jangan sampai kebebasannya membuat kita lupa bahwa ada ketidakadilan besar yang belum terselesaikan. Bahwa ada luka sistemik yang masih dibiarkan terbuka.

Kita perlu menyuarakan bahwa keadilan tidak boleh bergantung pada siapa yang kita kenal atau seberapa keras suara publik. Kita membutuhkan reformasi menyeluruh terhadap sistem hukum yang selama ini kerap menjadi alat kekuasaan, bukan sekadar menunggu momen di mana presiden atau pejabat tampil heroik.

Karena jika tidak, siklus ini akan terus berulang. Kasus demi kasus akan bergulir, dan para penyelamat akan kembali muncul di layar depan membawa pesan pengampunan dan harapan palsu. Sementara itu, orang-orang kecil tetap menjadi korban dari sistem yang tidak pernah berpihak pada mereka.

Kita harus tetap waspada dan kritis. Jangan sampai keadilan hanya menjadi cerita indah yang terus dipentaskan tanpa pernah sungguh-sungguh ditegakkan.

 

Penulis: Ibnu Salim

Editor: Atika Puspita.

Tags: #LPM Al Mizan#UINGusdurhukumkeadilantom lembong
Ibnu Salim

Ibnu Salim

Related Posts

Membuka Entrok Karya Okky Madasari

Membuka Entrok Karya Okky Madasari

19 September 2026
“Ya Namanya Juga Mahasiswa”: Ketika Begadang dan Stres Dinormalisasi

“Ya Namanya Juga Mahasiswa”: Ketika Begadang dan Stres Dinormalisasi

15 September 2026
Ketika Kamu Terus Dibuat Merasa Bersalah

Ketika Kamu Terus Dibuat Merasa Bersalah

7 September 2026
Resensi Film Ghost in the Cell, Ketika Napi Beringas Berlomba Jadi Orang Baik demi Bertahan Hidup

Resensi Film Ghost in the Cell, Ketika Napi Beringas Berlomba Jadi Orang Baik demi Bertahan Hidup

5 September 2026
Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

24 Agustus 2026
Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

23 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2026

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In