• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Pementasan Monolog Lakon “Cermin” Pesan Hidup Atas Masalah

Nazira Laela Nasta by Nazira Laela Nasta
16 Agustus 2021
in Berita
0
Pementasan Monolog Lakon “Cermin” Pesan Hidup Atas Masalah

Penampilan musikalisasi puisi dalam pembukaan monolog lakon "Cermin" (15/8) Foto by Daniel Alif (LPM Al-Mizan)

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan.com – Minggu sore Teater Zenith telah menyuguhkan pementasan monolog lakon cermin yang digelar di Jagad Kopi Buaran. Selain menjadi pertunjukan hiburan, banyak pesan yang dipersembahkan menjadi cerminan kehidupan atas masalah seseorang. (15/8) Pementasan tersebut mendapatkan sambutan baik dari penonton, meskipun dipertontonkan secara terbatas. Hal ini terlihat dari pelaksanaan acara yang ramai dihadiri oleh para penonton, baik dari IAIN Pekalongan maupun dari mahasiswa kampus lain, salah satunya seperti UNIKAL.

“Tolong cahaya, tolong saya takut gelap…”

Dalam ruangan yang gelap teriakan itu memulai pementasan monolog, seorang lakon muncul dari belakang penonton. Lakon monolog ini mengisahkan tentang seorang pria yang sangat mencintai istrinya yang bernama Suni “Su”. Dia menceritakan masalahnya yang sudah terpendam, Su sendiri adalah seorang wanita pekerja seksual yang menjual tubuhnya untuk mendapatkan uang, kehidupan rumah tangga antara pria ini dan Su selalu tidak harmonis. Lantartan istrinya selalu menuntut banyak hal, padahal pria ini selalu sabar dalam menghadapi sikap istrinya yang kerap kali menyakiti hatinya. Pria ini meminta kepada Su untuk hidup dan bekerja yang biasa saja, akan tetapi Su menolak dan tidak memperdulikan suaminya.

Bertahun-tahun pria ini bertahan dan bersabar, ia selalu memendam segala rasa sakitnya sendirian, ia tidak pernah berani untuk melakukan apapun. Meski hatinya selalu tercabik-cabik dengan sikap Su yang semaunya sendiri. Pria ini dan Su dikaruniai 3 orang anak, tapi pria ini sangat yakin, bahwa mereka bukanlah anaknya. Apalagi anak yang ketiga rambutnya keriting, kulitnya hitam, ciri-ciri itu sama sekali tidak mirip dengannya. Pria ini selalu menelan rasa pahitnya sendirian, ia masih tetap saja mau bersabar selama ini, tak masalah jika Su bekerja sebagai pekerja seksual.

Hingga pada akhirnya malam itu suami Su marah besar, dan sudah tidak mampu lagi untuk membendung rasa kekecewaanya. Mata hatinya sudah tertutup dan ia menjadi sangat menakutkan seperti singa yang siap menghabisi apapun di depannya. Hingga malam itu ia membunuh istrinya Su dan anak-anak mereka, beserta semua selingkuhannya Su. Suami Su menjadi sangat brutal hingga akhirnya ia kehilangan segalanya. Masyarakat pun menjauhinya karena ia adalah seorang pembunuh. Disinilah tempat terakhir dirinya bersinggah, hukuman mati padanya telah dijatuhkan oleh keadilan. Ia kehilangan jati dirinya dan kehilangan kewarasannya, semuanya terasa gelap dihidupnya sekarang. Karena yang ia butuhkan hanyalah cahaya, akan tetapi semuanya sudah terlambat, sebab cahaya sudah habis termakan waktu.

Muhammad Irzad Arkan sang lakon dalam pementasan monolog ini menceritakan filosofis ceritanya. “Cermin itu kan yang bisa kita lihat diri kita sendiri, nah dalam naskah ini, kita ingin melihat hal apa saja yang ada dalam diri kita sendiri, seperti halnya amarah yang dipendam terus-menerus itu kan bisa berakibat fatal.” Tuturnya sesusai pementasan.

ArtikelTerkait

Usai Pementasan Keliling, UKM Zenith Gelar Malam Puncak di IAIN Pekalongan

Lagi, UKM Teater Zenith Adakan Pagelaran Lomba

Teater Zenith Adakan Ngaji Budaya

Di sisi lain Aqil Muhtar selaku pimipinan produksi menceritakan juga proses persiapan yang memakan waktu 3-4 bulan. “Sudah lama sih persiapannya, tiga empat bulanan,” ujarnya.

Muhammad Mufidul Ulum, sutradara juga menyampaikan dalam proses ini terdapat kendala yang dilalui seperti kurangnya latihan. ”Untuk prosesi kita memilki kendala pada umunya, yaitu seperti kurang tepat waktu pada latihan, apalagi untuk acaranya sendiri juga dimasa PPKM seperti ini, meskipun kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun tidak seperti sebelum-sebelumnya.” Tandasnya.

Reporter : Nazira Laela Nasta, Daniel Alif

Editor : Daniel Alif

Tags: naskah cerminPementasanteaterUKM TEATER ZENITH
Nazira Laela Nasta

Nazira Laela Nasta

Related Posts

Syafaat Bubur Suro 2026, Kolaborasi Budaya Krapyak dan Ekonomi Syariah

Syafaat Bubur Suro 2026, Kolaborasi Budaya Krapyak dan Ekonomi Syariah

11 Juli 2026
Dorong Penghijauan Kampus di UIN Gus Dur, Menteri Agama Berikan Pembinaan Ekoteologi

Dorong Penghijauan Kampus di UIN Gus Dur, Menteri Agama Berikan Pembinaan Ekoteologi

28 Juni 2026
Menteri Agama Resmikan Laboratorium Terpadu, UIN Gus Dur Perkuat Fasilitas Akademik

Menteri Agama Resmikan Laboratorium Terpadu, UIN Gus Dur Perkuat Fasilitas Akademik

28 Juni 2026
Aliansi Pemalang Gelar Aksi Damai di Simpang City Walk Pemalang, Suarakan Lima Tuntutan

Aliansi Pemalang Gelar Aksi Damai di Simpang City Walk Pemalang, Suarakan Lima Tuntutan

24 Juni 2026
Tanggapi Tuntutan Aksi, Pemkab Pekalongan Upayakan Tuntutan Sampai ke Pemerintahan Pusat

Tanggapi Tuntutan Aksi, Pemkab Pekalongan Upayakan Tuntutan Sampai ke Pemerintahan Pusat

19 Juni 2026
Melalui Komite Seni Tradisi, Dewan Kesenian dan Budaya Pekalongan Gelar Pementasan Reog Batik

Melalui Komite Seni Tradisi, Dewan Kesenian dan Budaya Pekalongan Gelar Pementasan Reog Batik

13 Juni 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In