• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Kuliah Kerja Lapangan Atau Kuliah Kerja Liburan?

Ibnu Salim by Ibnu Salim
24 April 2025
in Analisis, Opini
0
Kuliah Kerja Lapangan Atau Kuliah Kerja Liburan?
Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Kuliah Kerja Lapangan (KKL) merupakan program yang diharapkan menjadi ruang pertemuan antara teori dan praktik. Dalam pedoman yang telah diterbitkan oleh kampus, tercatat berderet-deret tujuan mulia yang ingin dicapai: membentuk mahasiswa yang profesional, komunikatif, memahami dunia kerja dan dakwah, serta siap mengembangkan keilmuannya secara praktis di lapangan.

Sayangnya, idealisme yang tertulis dalam buku pedoman, tidak selalu hadir dalam realitas perjalanan KKL itu sendiri. Saya salah satu mahasiswa yang baru saja menyelesaikan program KKL. Dengan jujur, saya menyatakan bahwa program ini tidak sepenuhnya memenuhi harapan akademik. Bahkan, lebih dari itu saya merasa tertipu oleh label “kuliah kerja lapangan” yang dibungkus rapi untuk menutupi kenyataan bahwa mayoritas kegiatan lebih menyerupai rangkaian wisata daripada pembelajaran yang bermakna. Tentu, liburan itu menyenangkan, apalagi jika disubsidi oleh semangat belajar.

Namun bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya: semangat belajar ditelan oleh euforia wisata?
Jika kita menilik kembali makna KKL sebagaimana disebut dalam berbagai literatur pendidikan tinggi, program ini umumnya dijalankan oleh perguruan tinggi. Tujuannya jelas: membekali mahasiswa dengan keahlian terapan melalui kunjungan ke dunia industri yang sesuai dengan bidang keilmuan mereka. Lantas, bagaimana dengan KKL kami yang sebagian besar justru diarahkan ke tempat-tempat wisata? Apakah esensi pembelajaran sudah digantikan oleh estetika selfie?

Saya tidak menafikan bahwa ada beberapa kunjungan yang layak disebut sebagai pembelajaran. Salah satunya adalah kunjungan ke pesantren yang mampu hidup berdampingan dengan masyarakat sekitar yang dominan dengan umat non-islam, itulah tempat yang memberi kami pelajaran tentang makna moderasi beragama. Di sana, kami menyimak bagaimana komunikasi, dakwah, dan nilai-nilai toleransi berjalan seiring. Namun, pengalaman seperti itu hanya satu dari sedikit. Sisanya, lebih banyak mengisi catatan harian dengan panorama dan oleh-oleh.

Kunjungan ke stasiun televisi dan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) semestinya menjadi ladang emas untuk menimba ilmu komunikasi strategis. Namun lagi-lagi, ekspektasi itu pupus. Di Diskominfo, penyampaian materi lebih banyak membahas soal sistem IT dan penguatan data digital, bahkan yang menyampaikan pun bukan dari bidang humas atau kehumasan.

Padahal, sebagai mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, kami menunggu-nunggu penjelasan tentang bagaimana institusi pemerintah membangun hubungan dengan publik, menjaga citra, dan menjalankan fungsi komunikasi publik.

ArtikelTerkait

Menepis Stigma, Merajut Kesetaraan: Resensi Buku Menjadi Feminis Muslim

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Syafaat Bubur Suro 2026, Kolaborasi Budaya Krapyak dan Ekonomi Syariah

Ironisnya, beberapa materi yang disampaikan pun dapat dengan mudah ditemukan di YouTube. Maka saya bertanya, mengapa kami harus mengeluarkan jutaan rupiah hanya untuk mendapatkan pengetahuan yang sebenarnya tersedia secara daring dan gratis? Apakah karena Bali terlalu indah untuk dilewatkan, lalu kita memaksakan program pendidikan di atas pasir pantai dan senyum patung Garuda Wisnu?

Saya teringat ketika saya meyakinkan orang tua saya untuk ikut program ini. “Mah, Pah, ini untuk belajar. Kuliah Kerja Lapangan, wajib dari kampus,” kata saya. Mereka percaya. Mereka pikir saya akan pulang membawa pengalaman akademik yang akan menunjang masa depan.

Namun kenyataannya, saya pulang dengan ransel berisi kaos oleh-oleh, dan kepala yang penuh tanda tanya. Apakah saya telah membohongi orang tua saya, meski tanpa niat?
Padahal, jika ingin liburan, saya bisa mengatur waktu dan uang sendiri. Bahkan dengan anggaran yang lebih murah, saya bisa jalan-jalan tanpa harus berbohong pada orang tua dengan dalih KKL. Dan setidaknya, jika saya liburan mandiri, saya tahu bahwa saya memang sedang bersenang-senang, bukan berpura-pura menimba ilmu.

Kini, tahun 2025, program KKL akan kembali digelar. Saya melihat rundown terbaru, memang tampak lebih menjanjikan karena mayoritas tujuannya adalah tempat-tempat belajar. Namun tetap saja, masih ada beberapa destinasi wisata yang tertulis di dalamnya. Dan mahasiswa mulai bertanya-tanya, “Kenapa? Mengapa harus ada obyek wisata lagi? Apa urgensinya?”

Hei kampus, kami ini mahasiswa, bukan turis. Jika ingin liburan, kami bisa mandiri, bisa hemat, bisa bebas. Tapi jika KKL terus dikemas dalam paket pariwisata akademik, maka jangan salahkan kami jika mulai apatis. Karena kami kecewa. Kecewa bahwa biaya yang besar hanya berujung pada dokumentasi swafoto dan stiker rombongan.

Organisasi mahasiswa kami sering kali melakukan studi banding, berkunjung ke lembaga-lembaga media, diskusi dengan para praktisi, dan menyusun laporan yang terukur. Anehnya, justru kegiatan organisasi terasa lebih ilmiah dibanding KKL yang diselenggarakan oleh institusi resmi kampus. Seharusnya kampus menjadi teladan dalam menyelenggarakan kegiatan akademik, bukan justru mengabaikan nilai-nilai pendidikan demi memanjakan mahasiswa dengan wisata terselubung.

Maka dari itu, saya menulis ini bukan sebagai bentuk kebencian, melainkan sebagai refleksi. Sebuah ajakan untuk memikirkan kembali makna KKL secara jujur dan bertanggung jawab. Jika memang tujuannya liburan, maka katakan saja liburan. Jangan pakai embel-embel kuliah jika yang dijalani justru rekreasi. Jangan paksakan nilai akademik dalam brosur wisata. Karena pada akhirnya, mahasiswa bukan hanya ingin senang-senang, kami juga ingin berkembang.

KKL bukan sekadar jalan-jalan berjubah ilmiah. Jika terus seperti ini, bukan tidak mungkin nanti akan muncul program baru: Skripsi Ekskursi, di mana mahasiswa menulis penelitian sambil snorkeling.

Terakhir, saya berharap kampus tidak hanya memikirkan destinasi, tetapi juga dampak. Tidak hanya fokus pada dokumentasi kegiatan, tetapi juga dokumentasi pemikiran. Karena jika pendidikan dijalankan tanpa esensi, maka yang tersisa hanya pesta dan foto-foto, bukan pemahaman dan pembelajaran.
Dan itu sungguh menyedihkan.

 

Penulis: Ibnu Salim

Editor: Atika Puspita

Tags: #LPM Al Mizan#UINGusdurKKLKuliah Kerja Liburan?
Ibnu Salim

Ibnu Salim

Related Posts

Menepis Stigma, Merajut Kesetaraan: Resensi Buku Menjadi Feminis Muslim

Menepis Stigma, Merajut Kesetaraan: Resensi Buku Menjadi Feminis Muslim

21 Juli 2026
Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

Membaca “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Tengah Sengkarut Penegak Hukum dan Krisis Energi yang Menampar Rakyat

17 Juli 2026
Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

Fenomena Zero Post, Ketika Memilih Diam dan Menghilang dari Media Sosial

9 Juni 2026
Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

Refleksi Budaya Hormat dan Sikap Fanatisme Berlebihan

5 Juni 2026
Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

Kecemasan Sosial Gen Z di Era Digital

28 Mei 2026
The “Tumbal”: From Harvard to Prison

The “Tumbal”: From Harvard to Prison

23 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In