lpmalmizan – Puluhan umat Buddha di Pekalongan dan sekitarnya memperingati detik-detik Tri-Suci Waisak di Vihara Bodhi Dharma Pekalongan pada Minggu, (31/5). Dengan tajuk “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih Bagi Negeri”, perayaan Waisak tahun ini berlangsung khidmat.
Rangkaian acara dimulai pada pukul 09.30 WIB, jemaat melaksanakan ritual pelepasan satwa dan dilanjutkan dengan upacara Dana Makan Bhante. Memasuki puncak acara, yaitu detik-detik Waisak pada 15.00 WIB.
Dalam tradisi Buddha Theravada, penentuan detik-detik Waisak dilakukan secara presisi. Di mana seluruh umat Buddha akan melangsungkan meditasi bersama tepat pada momentum tersebut.
Peringatan Waisak sendiri merangkum Tiga Peristiwa Penting (Tri-Suci Waisak) yaitu lahirnya Pangeran Siddharta, Buddha mencapai Penerangan Sempurna, dan Buddha Parinibbana (wafatnya Buddha). Ketiga peristiwa tersebut diperingati secara bersamaan oleh umat Buddha dalam perayaan Waisak yang dilaksanakan setiap tahun.
Munarso, seorang Pandhita, mengatakan bahwa Vihara Bodhi Dharma Pekalongan yang berada di bawah binaan Sangha Theravada Indonesia (STI) menerapkan tradisi kemandirian kepada umatnya. Hal ini terlihat saat sesi makan bersama.
“Setiap umat mengambil makanan secara mandiri tanpa dilayani untuk melatih kesadaran dan kedisiplinan diri,” ujarnya.
Daisy, selaku pengurus, mengatakan bahwa setiap tahun dalam perayaan Waisak pasti memiliki keunikan tersendiri.
“Setiap tahun pasti berbeda, karena Buddha selalu mengajak untuk hidup saat ini,” ujarnya.
Selain itu, momentum Waisak ini juga dimanfaatkan umat untuk menjalankan puasa batin (Atthasila), yang tidak hanya menahan lapar, tetapi juga melatih diri dalam mengendalikan amarah serta hawa nafsu. Pelaksanaan Atthasila umumnya dilakukan umat Buddha pada hari-hari tertentu, terutama saat perayaan keagamaan, sebagai bagian dari latihan pengendalian diri.
Menurut salah satu jemaat, perayaan Waisak menjadi waktu yang penting untuk merefleksikan diri ke dalam batin.
“Waisak itu momen yang khusus dan khusyuk untuk masuk ke dalam batin, karena kita bermeditasi sehingga di batin itu terjadi kelembutan,” ujarnya.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung secara tertib dan diikuti oleh umat Buddha yang hadir hingga puncak perayaan Waisak.
Penulis: Rara dan Syahdan
Tim liputan: Rara, Syahdan, Nahla, Tika
Editor: Achmad Bagas Pranata






