• Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Siluet Sang (Pena)ri

Redaksi Al-Mizan by Redaksi Al-Mizan
9 Mei 2018
in Sastra
0
Siluet Sang (Pena)ri

By: Ken

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

Riuh tepuk tangan menggema memenuhi aula kampus saat seorang penari terakhir selesai tampil, gue dan Demas pun ikut bertepuk tangan juga. Tambahan, Demas tepuk tangan lebay, sedangkan gue enggak. Pokoknya kalau ada yang tanya siapa cunguk di sebelah gue, jelas jawabannya adalah gue nggak kenal. Karena sumpah, ini anak malu-maluin. Andai aja nggak gue ingetin, dia hampir-hampir siul kenceng sambil nangis. Gimana nggak, Demas emang manusia terbaperan di sepanjang hidup gue.

“Kok lo biasa aja sih? Kenapa? Penari penutupnya bagus tauk. Wagelaseh,” Berondongnya.

Karena penarinya kelihatan aneh.

Tentu saja itu hanyalah ada dalam hati gue.

Jujur, gue memang bukan pecinta tari. Tapi gue sering nonton Tante gue melatih nari di sanggar tarinya. Yah walaupun cuma tiap hari minggu, yang mana selain membuat gue jadi punya kerjaan yaitu motret event-event tante gue dan murid-muridnya, juga membuat gue jadi sedikit banyak tahu makna di balik gerakan-gerakan tari. Gue tahu mana gerakan yang bermakna bahagia dan enggak. Entah gimana, pokoknya gue tahu aja.

Dan penari terakhir tadi.. dia kelihatan apa ya.. bukan sedih, tapi seolah ada sesuatu yang..

ArtikelTerkait

Manusia, Alam dan Sastra—Buletin Sastra GIE Edisi 2025

Asmaraloka – Buletin Sastra GIE Edisi 2024

Bintang di Balik Awan

Anggaplah gue nyinyir. Tapi dia kaya kelihatan ikhlas.. bagi gue aneh. Gimana sih ya, gue belum pernah melihat seseorang menari dengan menonjolkan makna ikhlas. Biasanya yaa, menggebu, lemah lembut, atau cinta _yang mana bisa cinta kepada lawan jenis atau cinta kepada menari itu sendiri_.

Ah entahlah, gue sendiri nggak yakin.

Hanya saja, gadis itu terlihat seperti menyeka air matanya sesaat sebelum tarian dimulai saat seluruh aula digelapkan, saat lampu sorot belum diarahkan kepadanya. Lampu sorot padam dan anehnya, aula tak kunjung terang sampai sekarang. Padahal jelas, rasa penasaran gue sudah sampai di ubun-ubun, karena sosoknya nggak terlalu jelas dari bangku yang gue duduki. Salahkan Demas yang menukar tiket kami dengan tiket pacarnya dan juga gue yang lupa bawa kamera buat mengabadikan gambar sekaligus melihat dengan lebih jelas melalui hasil zoom in-nya.

Gue lihat gadis penari itu berlalu, untuk kemudian bergabung bersama seluruh penampil hari ini berbaris di depan panggung, mengucapkan terimakasih. Samar-samar gue lihat dia tersenyum. Dan dari jauh pun, senyumnya menular. Duh, melankolis banget. Efek temenan sama Demas sekian tahun.

Belum lagi gue selesai nyalahin Demas, bocah itu narik-narik tangan gue untuk segera pergi karena dia kebelet. Kebiasaan dia kalau kelamaan duduk. Gue pun menurut, mengikuti langkah Demas keluar dari aula kampus dan bersyukur karena setelah itu, ada kejadian yang luar biasa di hidup gue. Tentang bagaimana gue mengenal Della dan kisah hidupnya.

Untuk Della, dimanapun lo berada, gue akan tanpa ragu mengatakan bahwa sejak saat itu, hidup gue nggak lagi melulu soal keindahan, tapi juga tangis saat usaha untuk menciptakan keindahan itu sendiri.

Bersambung…..

Tags: cerbungcerpenlpm almizansastra
Redaksi Al-Mizan

Redaksi Al-Mizan

Related Posts

Tak Sama Tanpamu

Tak Sama Tanpamu

28 April 2026
Rendang

Rendang

11 April 2026
Bengawan Solo

Bengawan Solo

15 Januari 2026
Dia Yang Datang Bukan Untukku

Dia Yang Datang Bukan Untukku

5 Januari 2026
Pergolakan Emosi

Pergolakan Emosi

5 Januari 2026
Di Punggung Sunyi Hutan

Di Punggung Sunyi Hutan

4 Januari 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2025

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In