lpmalmizan – Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid (DEMA UIN Gus Dur) Pekalongan menggelar seminar bertema “Pembudayaan Karakter: Mengembalikan Jati Diri Mahasiswa.”
Acara ini menghadirkan dua tokoh inspiratif, yaitu anggota DPRD Kabupaten Pekalongan, Jahirin dan dosen ITS NU Kabupaten Pekalongan, Labib Maimun.
Seminar yang berlangsung di Gedung Student Centre ini dihadiri oleh sekitar 60 organisasi mahasiswa (Ormawa), termasuk perwakilan dari HMPS, SEMA, DEMA, dan UKM di tingkat fakultas maupun universitas. Para peserta antusias mengikuti diskusi yang membahas tentang peran dan idealisme mahasiswa dalam masyarakat.
Dalam pemaparannya, Labib Maimun membahas tema Mahasiswa Ideal, Idealis, dan Idealisme. Menurutnya, mahasiswa sering kali dianggap sebagai kelompok yang memiliki idealisme tinggi karena mereka belum terlibat dalam kepentingan politik praktis.
“Mahasiswa diidentikkan dengan idealisme karena mereka adalah kelompok terpelajar yang masih objektif dalam berpikir,” ujarnya.
Terkait meningkatnya angka pengangguran berdasarkan data BPS, Labib menyoroti bahwa lulusan perguruan tinggi terkadang terlalu idealis dalam memilih pekerjaan.
“Sebagai contoh, di Kudus, ada lulusan mahasiswa jurusan komputer yang enggan bekerja sebagai tenaga administrasi di sekolah,” tambahnya.
Sementara itu, Jahirin membawakan materi tentang Gerakan Kolektif yang menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam aksi nyata.
“Gerakan kolektif sangat relevan bagi aktivis internal maupun eksternal kampus. Idealnya, mahasiswa mampu mentransformasikan ilmu yang mereka peroleh ke dalam masyarakat,” paparnya.
Menurutnya, gerakan kolektif biasanya muncul secara spontan untuk mencapai tujuan jangka pendek.
“Mahasiswa harus lebih aktif menginisiasi gerakan-gerakan kolektif agar wawasan mereka semakin berkembang,” imbuhnya.
Salah satu peserta, Hanan, delegasi dari HMPS Bahasa Arab, mengungkapkan ketertarikannya terhadap tema seminar.
“Saya tertarik dengan tema idealisme ini karena ingin memahami lebih dalam. Menurut saya, idealisme tetap perlu dibatasi dengan realisme agar seimbang dan tidak terjadi ketimpangan,” katanya.
Ketua pelaksana, Nur Khofifah, berharap seminar ini dapat membangkitkan kesadaran mahasiswa akan pentingnya identitas diri.
“Kami ingin mahasiswa menyadari apa yang kurang dari diri mereka dan bersama-sama mengembalikan jati diri sebagai mahasiswa. Ke depan, kami berharap ada gerakan kolektif lanjutan, termasuk kajian-kajian mendalam,” tuturnya.
Menutup acara, Presiden Mahasiswa UIN Gus Dur, Arif, menegaskan bahwa seminar ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran kolektif di kalangan mahasiswa.
“Intinya, kami ingin membangun gerakan kolektif. Misalnya, jika terjadi pemangkasan anggaran di kampus, mahasiswa sebagai kelompok yang memiliki idealisme tinggi harus memiliki strategi dalam menyelesaikan permasalahan ini,” tandasnya.
Dengan terselenggaranya acara ini, diharapkan mahasiswa semakin sadar akan peran dan tanggung jawabnya sebagai agen perubahan yang aktif dan berkontribusi dalam masyarakat.
Penulis: Riska
Editor: Ika Amiliya Nurhidayah
Tim liputan: Ana & Titi






