• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Resensi Film Ghost in the Cell, Ketika Napi Beringas Berlomba Jadi Orang Baik demi Bertahan Hidup

Muhammad Ardiyansyah by Muhammad Ardiyansyah
5 September 2026
in Analisis, Review
0
Resensi Film Ghost in the Cell, Ketika Napi Beringas Berlomba Jadi Orang Baik demi Bertahan Hidup

Sumber: Instagram @jokoanwar

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

Judul : Ghost in the Cell
Sutradara : Joko Anwar
Produser : Tia Hasibuan
Penulis Skenario : Joko Anwar
Genre : Horor-komedi
Perusahaan Produksi : Come and See Pictures
Pemeran : Endy Arfian, Abimana Aryasatya, Yoga Pratama, Aming, Kiki Narendra
Durasi : 106 menit
Tanggal Rilis : 16 April 2026

lpmalmizan – Film Ghost in the Cell merupakan garapan Joko Anwar yang menggabungkan tingkah konyol para narapidana dengan bumbu misteri yang menegangkan, film ini menawarkan tontonan seru tanpa harus pusing mengikuti jalan cerita yang rumit. Fokus cerita berada pada kehidupan keras dan perselisihan antar geng di sebuah penjara bernama Lapas Labuhan Angsana.

Mereka bertahan hidup di sana bukan tanpa alasan, melainkan demi menjaga dominasi dan kekuasaan di balik sel penjara. Ketegangan dan keseruan cerita terbangun dari dinamika hubungan antar tahanan serta kehadiran karakter-karakter narapidana yang diperankan oleh aktor kawakan seperti Abimana Aryasatya dan Endy Arfian.

Sebagai tahanan, beberapa karakter tampil dengan watak keras kepala, beringas, dan gampang panik saat situasi memanas. Sementara itu, karakter lainnya melengkapi suasana lewat tingkah mereka yang nyeleneh, santai, namun kerap melontarkan ide-ide konyol yang justru menjadi pemicu berbagai kekacauan di dalam blok sel.

Namanya juga persaingan antar geng demi kekuasaan, strategi dan akal-akalan kotor di antara para napi jelas tak terhindarkan. Demi membuat pihak lawan tunduk dan memilih mundur, awalnya mereka saling unjuk kekuatan dan kekejaman di lingkungan penjara yang penuh korupsi tersebut.

Sialnya, rutinitas beringas ini malah berantakan total. Tanpa disangka, sebuah teror gaib muncul mengancam keselamatan seisi lapas, di mana sosok hantu misterius mengincar dan membunuh siapa saja yang memiliki energi atau aura paling negatif.

ArtikelTerkait

844 Wisudawan UIN Gus Dur Raih Predikat Cumlaude di Wisuda Agustus 2026

Siaran Pers: Hentikan Kekerasan Terhadap Jurnalis Mahasiswa, Berikan Perlindungan Memadai! Forum Persma se-DIY dan AJI Yogyakarta

Ampera Gelar Panggung Rakyat Bentuk Kepedulian terhadap Sosial

Bukannya cuma berurusan dengan ancaman antar geng, mereka beserta para sipir korup malah harus berhadapan langsung dengan teror arwah penasaran yang mematikan, mengubah situasi yang tadinya penuh kekerasan menjadi kepanikan seru saat para napi justru berlomba-lomba berbuat baik demi menyelamatkan diri.

Ada beberapa alasan kuat mengapa film Ghost in the Cell ini sangat menarik untuk dibahas dan diresensi. Film ini berhasil memanfaatkan komedi yang dipadukan secara pas dengan horor dan elemen gore.

Di saat industri film horor Indonesia sedang gempur-gempurnya menyajikan tema sekte atau religi yang berat, Ghost in the Cell hadir sebagai hiburan segar berbalut satir sosial bagi penonton yang merindukan komedi gelap.

Selain itu, kekompakan antar pemainnya sangat bagus. Komunikasi non-verbal, tempo komedi, hingga celetukan kasual khas para aktor seperti Aming dan Yoga Pratama membuat humor di dalamnya mengalir hidup dan tidak dipaksakan, mengajak penonton merasakan suasana absurd di mana rasa takut dan gelak tawa hadir beriringan.

Meski menyajikan daya tarik yang kuat, film ini tentu tidak lepas dari kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Nilai plus utama dari film ini terletak pada humornya yang terasa alami dan segar berkat premis absurd napi yang dipaksa jadi orang baik, sukses mencairkan suasana lapas yang mencekam.

Selain itu, dinamika kelompoknya dibangun dengan baik sehingga interaksi antar geng dan para sipir terasa hidup, didukung pula oleh pemilihan lokasi di Lapas Labuhan Angsana yang berhasil memberikan nuansa horor tanpa menghilangkan fokus pada unsur komedinya. Namun di sisi lain, film ini memiliki kekurangan pada alur ceritanya yang terbilang cukup pasaran di beberapa adegan.

Konsep teror di ruang tertutup penjara bukanlah hal yang baru dalam genre komedi-horor, sehingga alur cerita maupun plot twist pengungkapan misterinya terasa cukup mudah ditebak bagi penonton yang sudah terbiasa dengan film sejenis. Secara keseluruhan, Ghost in the Cell tetap berhasil menyajikan paduan komedi, sindiran sosial, dan unsur horor yang menghibur.

Walaupun ide ceritanya terbilang sederhana dan relatif mudah ditebak, film ini sukses menyajikan tontonan yang ramai, lucu, dan tetap memberikan sensasi kaget yang pas. Bagi yang mencari tontonan segar dan menghibur bersama teman, film ini sangat layak untuk masuk ke dalam daftar tontonan.

 

Penulis: Muhammad Ardiyansyah

Editor: Achmad Bagas Pranata

Tags: #Joko Anwar#LPM Al Mizan#UINGusdur
Muhammad Ardiyansyah

Muhammad Ardiyansyah

Related Posts

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

24 Agustus 2026
Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

23 Agustus 2026
Ketika Gelar Sarjana Kehilangan Daya Tawarnya

Ketika Gelar Sarjana Kehilangan Daya Tawarnya

23 Agustus 2026
Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

20 Agustus 2026
Resensi Film Tiba-Tiba Setan, Ketika Perburuan Harta Karun Berujung Teror Sungguhan

Resensi Film Tiba-Tiba Setan, Ketika Perburuan Harta Karun Berujung Teror Sungguhan

14 Agustus 2026
Menemukan Diri di Setiap Langkah: Menelusuri Makna Perjalanan dalam Arah Langkah

Menemukan Diri di Setiap Langkah: Menelusuri Makna Perjalanan dalam Arah Langkah

12 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2026

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In