• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Mengurai Kontras antara People Pleasing dan Self Love

Firdasari Desfiani by Firdasari Desfiani
21 Mei 2026
in Analisis, Opini
0
Mengurai Kontras antara People Pleasing dan Self Love
Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat orang yang siap membantu, tanpa memandang mereka siapa, tidak pamrih, rendah hati, bahkan tidak mau untuk mendapat imbalan sepersenpun. Namun, di balik sikap yang tampak mulia itu, mereka enggan menceritakan rasa lelah, cemas berlebihan, dan kebingungan.

Banyak dari mereka yang sebenarnya merasa tidak bahagia karena ekspektasi orang lain. Fenomena ini sering kita kenal sebagai people pleasing sebagai kebiasaan buruk terhadap diri mereka, tanpa menyadari apa yang hilang dalam dirinya selama ini.

Hal ini menunjukkan kebaikan hati yang berlebihan, dengan anggapan bahwa lingkungan sekitar akan terasa menyenangkan jika mereka terus memenuhi harapan orang lain. Di sisi lain, muncul istilah self-love yang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir ini, yakni mencintai diri sendiri secara sehat, tetap membantu orang lain, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya bagi diri sendiri.

Terlihat sederhana, namun ternyata masih banyak orang yang mengabaikan hal ini. Mereka kesulitan mengutamakan diri sendiri dibandingkan orang lain, serta sulit mengatakan “tidak” tanpa menyadari dampaknya, baik di masa sekarang maupun masa depan. Pertanyaan yang kemudian muncul: mengapa people pleasing begitu sulit dihindari?

Self-love bukan sekadar merawat diri atau membeli sesuatu untuk menyenangkan diri sendiri. Menurut pandangan peneliti psikologi, Dr. Kristin Neff dari University of Texas, seorang pelopor self-compassion, self-love merupakan kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan bijak, penuh kebaikan, dan pengertian, terutama saat merasa gagal. Orang yang memiliki self-love cenderung lebih sehat secara mental dibandingkan dengan mereka yang terjebak dalam people pleasing.

Sementara itu, pelaku people pleasing sering mengalami kesulitan dalam memulihkan kondisi mentalnya. Pandangan Dr. Harriet B. Braiker, seorang psikolog asal Amerika Serikat, menunjukkan adanya individu yang terjebak dalam people pleasing memiliki ketakutan besar untuk mengatakan “tidak”, seolah itu kesalahan fatal.

ArtikelTerkait

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

Penuntut Umum KPK Hadirkan 11 Saksi dalam Sidang Ketiga Pembuktian Mantan Bupati Pekalongan

Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

Mereka khawatir hubungan dengan orang lain akan rusak dan citra dirinya akan memburuk. Akibatnya, mereka terjebak dalam “daftar tugas” yang tidak pernah selesai.

Secara sekilas, self-love dan people pleasing tampak sebagai dua sisi yang bertolak belakang. Self-love mengajak kita memprioritaskan diri sendiri, sedangkan people pleasing mendorong kita untuk selalu memprioritaskan orang lain.

Ketika seseorang terus berada dalam pola people pleasing, batas antara kebaikan dan pengorbanan diri menjadi semakin kabur. Alasan seseorang terjebak dalam pola people pleasing yaitu faktor psikologis.

Individu yang tumbuh dengan rasa takut mengecewakan atau diabaikan cenderung mengembangkan pola ini. Rasa takut tersebut sering berakar dari pengalaman masa kecil, seperti hidup dalam keluarga yang menuntut kepatuhan tanpa ruang untuk menolak, atau lingkungan yang penuh kritik dan ancaman.

Akibatnya, mereka belajar bahwa cara untuk diterima adalah dengan selalu menyenangkan orang lain. Selain itu, faktor budaya juga berperan penting.

Di Indonesia, nilai sopan santun, rasa sungkan, dan harmoni sosial sangat dijunjung tinggi. Sejak kecil, kita diajarkan untuk tidak menolak permintaan orang lain.

Ungkapan seperti, “kamu harusnya mengalah” atau “jangan sampai mengecewakan orang lain” secara tidak langsung mendorong perilaku people pleasing. Meski bertujuan menjaga harmoni, jika berlebihan hal ini dapat membuat seseorang kehilangan jati dirinya.

Refleksi diri juga penting untuk memahami batasan pribadi. Kita berhak mempertimbangkan kondisi sebelum mengatakan “ya”.

Menolak dengan cara sopan, seperti “Boleh nanti dulu? Aku lagi banyak pekerjaan,” adalah langkah kecil yang berdampak besar bagi kesehatan mental. Dr. Carl Rogers menekankan pentingnya self-acceptance dan unconditional positive regard, yaitu menerima diri tanpa syarat.

Tanpa self-love, seseorang akan terus mencari validasi dari luar dan kehilangan jati dirinya dalam pola people pleasing. Self-love bukan berarti egois.

Justru, dengan mencintai diri sendiri, kita dapat memberi dengan lebih tulus tanpa tekanan. People pleasing mungkin membuat kita disukai, tetapi self-love membuat kita tetap utuh sebagai diri sendiri.

Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang membahagiakan orang lain, tetapi juga memastikan kita tidak kehilangan diri sendiri dalam prosesnya.

 

Penulis: Firdasari Desfiani

Editor: Naela Azkiya

Tags: #LPM Al Mizan#People Pleasing#Self Love#UINGusdur
Firdasari Desfiani

Firdasari Desfiani

Related Posts

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

Laut Bercerita: Kisah Perjuangan dan Kehilangan

24 Agustus 2026
Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

Conceal, Don’t Feel: Membaca Krisis Eksistensial Elsa Frozen ala Jean-Paul Sartre

23 Agustus 2026
Ketika Gelar Sarjana Kehilangan Daya Tawarnya

Ketika Gelar Sarjana Kehilangan Daya Tawarnya

23 Agustus 2026
Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

Belajar Stoa dari Panggung Stand-Up Comedy

20 Agustus 2026
Resensi Film Tiba-Tiba Setan, Ketika Perburuan Harta Karun Berujung Teror Sungguhan

Resensi Film Tiba-Tiba Setan, Ketika Perburuan Harta Karun Berujung Teror Sungguhan

14 Agustus 2026
Menemukan Diri di Setiap Langkah: Menelusuri Makna Perjalanan dalam Arah Langkah

Menemukan Diri di Setiap Langkah: Menelusuri Makna Perjalanan dalam Arah Langkah

12 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2026

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In