lpmalmizan – Di balik semarak dan gegap gempita acara wisuda di Universitas K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gusdur) Pekalongan, terselip kisah perjuangan dan semangat juang dari dua pelaku UMKM yang patut diacungi jempol. Mereka adalah Ahmad Riski Maulana, pemuda 21 tahun asal Pemalang yang menjajakan es teh dan makanan ringan, serta Ibu Lia, pengrajin buket bunga asal Semarang yang berjualan dengan penuh ketekunan.
Riski bukan sekadar pedagang minuman biasa. Demi mendapat tempat strategis dekat Gedung Student Centre, ia rela membayar sewa stand sebesar Rp200.000. Ia berjualan seperti es teh, nasi cokot, milkshake, pop mie, dan aneka minuman sachet. Meski sudah tiga kali ikut berjualan di UIN Gusdur, ia tetap harus berjuang dengan sungguh-sungguh dalam menghadapi tantangan baik dari jumlah pembeli yang naik turun ataupun persaingan ketat antar pedagang.
Dengan modal informasi dari Google Form yang disebar oleh panitia, ia mendaftar sendiri dan menyiapkan semuanya tanpa bantuan banyak orang.
“Berjualan di stand UMKM UIN Gusdur lumayan menguntungkan karena budget yang dikeluarkan cukup terjangkau,” ujarnya, meski tidak menutupi bahwa berdagang di lapangan membutuhkan kerja keras dan ketahanan mental.
Di sisi lain, ada Ibu Lia, sosok ibu rumah tangga berumur 40 tahun yang penuh kreativitas. Bersama suaminya, ia membuat sendiri buket bunga, buket uang, hingga mahar dengan belajar secara otodidak dari media sosial. Ia bahkan membawa barang-barang jualan dari Semarang ke Pekalongan dan rela menyewa stand di sisi Gedung Fasya seharga Rp150.000.
Yang menarik, buket yang ia jual tak selalu laris manis. Ia pernah hanya mendapat Rp10.000 dalam sehari, namun justru pengalaman itulah yang membentuk ketangguhan mentalnya. “Dulu pernah rugi pas pertama kali berjualan, tapi saya anggap itu proses belajar,” ujar Ibu Lia. Meski begitu, kini ia sudah tiga kali ikut berjualan di UIN Gusdur dan menganggapnya sebagai peluang yang sangat menjanjikan.
Tak hanya berdagang, mereka juga menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Keduanya menjaga kebersihan stand, memilah sampah, dan mengikuti sistem pembuangan yang sudah ditentukan panitia. Bagi mereka, etika berjualan di kota orang adalah hal yang tak boleh dilupakan karena itu bagian dari tanggung jawab bagi seorang pedagang.
Penulis: Chusma & Naila
Editor: Ika Amiliya





