lpmalmizan – Warna ungu pertama kali ditemukan oleh Bangsa Fenisia Kuno pada abad ke 16 SM. Siapa sangka warna ungu berasal dari lendir siput laut berjenis Tyrian dari spesies Murex (bollinus brandaris).
Lendir ini dikeluarkan oleh kelenjar hipobrankial sebagai alat pertahanan diri dan pelindung telur dari bakteri. Menurut Jullius Pollux, warna ini secara tidak sengaja ditemukan oleh Dewa Fenisia ketika berjalan di sepanjang Pantai Tyrian bersama anjingnya.
Singkat cerita mulut anjing tersebut dipenuhi cairan berwarna ungu cerah setelah menggigit siput tyrian jenis murex. Oleh karna itu, warna ungu pada jaman dahulu sering disebut ungu tyrian (tyrian purple).
Pewarna ungu ini seringkali digunakan oleh penduduk mesir untuk mewarnai kain. Untuk menghasilkan warna ungu dari siput ini tidaklah mudah.
Cangkang siput perlu dipecah atau dipisahkan dari tubuh siput untuk mempermudah proses pengamabilan lendir. Setelah itu diekstraksi pada wadah timah berisi air dan garam lalu dipanaskan bersama selama sepuluh hari hingga menghasilkan warna ungu kemerahan.
Pada proses ini menghasilkan aroma yang sangat tidak sedap, sehingga tempat pembuatan pewarna ungu tyrian ini biasanya terletak di arah angin kota-kota. Selain prosesnya yang susah, bahan utamanya juga terbatas, dibutuhkan 250 ribu ekor hanya untuk menghasilkan 30 gram pewarna ungu.
Oleh karena itu pewarna ungu menjadi warna yang langka sehingga keberadaannya dianggap sebagai warna yang eksklusif dan memiliki harga yang setara dengan emas.
Eksklusifitas warna ungu menjadikanya sebagai simbol kemewahan dan kekuatan yang sering digunakan sebagai pewarna jubah kerajaan dan kekaisaran. Dalam sejarah warna ungu tyrian menjadi pewarna paling langka dan paling mahal yang pernah ada.
Pada jaman Romawi Kuno, pakaian berwarna ungu hanya boleh dikenakan oleh masyarakat dengan kalangan atas. Rakyat kalangan bawah dilarang untuk memakainya sebagaimana tercatat dalam undang-undang simptuary, yang mengatur secara ketat mengenai warna, pakaian dan juga kain sesuai tingkatan sosial masyarakat.
Puncaknya pada tahun 1856, pewarna ungu sintetis secara tidaksengaja diciptakan oleh William Henry, ahli kimia berusia 18 tahun, ketika ia sedang mensintesis obat anti malaria. Pewarna ungu sintesis pertama itu di sebut dengan mauveine.
Penemuan hebatnya ini membuat warna ungu mudah di produksi, sehingga dapat dijangkau oleh masyarakat luas.
Dari simbol kemewahan menjadi warna janda?
Beberapa negara seperti Thailand dan Indonesia, menganggap warna ungu sebagai simbol kesedihan, kehilangan dan berduka. Di Indonesia sejarah ini dimulai pada tahun 1900 an, dimana masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya perempuan yang ditinggal suaminya meninggal, kebanyakan mengenakan stelan berwarna ungu tua sebagai simbol duka yang berbeda dari simbol duka warna hitam.
Di Thailand dan Eropa, warna ungu dijadikan simbol duka yang melambangkan perasaan kehilangan namun di balut dengan ketegaran dalam menghadapinya. Dalam teori warna, warna ungu dapat dihasilkan dari perpaduan warna merah dan biru, dimana warna biru memiliki arti duka atau kesedihan sedangkan warna merah memiliki arti kekuatan.
Sehingga makna yang terkandung dalam warna ungu diambil dari gabungan kedua warna tersebut. Secara umum, filosofi pada warna ungu tersebut hanya sebuah pandangan sosial yang turun temurun, bukan makna asli dari warna tersebut.
Penulis: Fatma Inayah
Editor: Achmad Bagas Pranata






