• Kirim Tulisan
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Online
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
LPM Al-Mizan
No Result
View All Result
  • Login
  • Register
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
No Result
View All Result
LPM Al-Mizan
  • Home
  • Berita
  • Analisis
  • Feature
  • Sastra
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
  • Agenda
  • Media Partner

Lomba Yang Tidak Kami Menangkan

Asmul Khair by Asmul Khair
22 Oktober 2026
in Cerpen, Sastra
0
Lomba Yang Tidak Kami Menangkan

foto by: Pinterest

Share on FacebookShare on TwitterShare on WA

lpmalmizan – Aku, Raka, dan Riko sudah bersahabat sejak kelas 1 bangku Sekolah Dasar. Kami hampir selalu terlihat bertiga. Saat istirahat, kami bermain bersama bahkan ketika ada tugas kelompok, kami juga sering memilih satu kelompok.

Teman-teman di kelas sudah terbiasa melihat kami pergi ke mana-mana bersama. Suatu hari, sekolah mengumumkan akan mengadakan lomba estafet dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan.

Satu kelompok terdiri dari tiga orang. Tanpa berpikir panjang, Aku, Raka, dan Riko langsung mendaftarkan diri.

Kami bertiga sangat bersemangat mempersiapkan lomba. Setiap sore sepulang sekolah, kami latihan lari di lapangan dekat rumah Raka.

Aku yang paling cepat menjadi pelari pertama, Raka mendapat bagian kedua, sedangkan Riko menjadi pelari terakhir. Kami berlatih berkali-kali, terutama saat memberikan dan menerima tongkat supaya tidak jatuh.

Kadang kami kelelahan dan akhirnya duduk di pinggir lapangan sambil minum. Meski begitu, kami tetap senang menjalaninya. Bahkan, kami sudah membayangkan bisa membawa pulang piala.

ArtikelTerkait

Cahaya Sendiri Meraung Gelap

LPM Al-Mizan Gelar Diklat Jurnalistik Dasar sebagai Tahap Awal Pengkaderan

Gerobak Mainan Pak Darto

“Kalau kita kompak, pasti bisa menang,” kata Raka dengan percaya diri.
Aku dan Riko hanya tertawa sambil mengangguk.

Hari lomba akhirnya tiba. Lapangan sekolah sudah ramai oleh siswa yang ingin melihat perlombaan.

Bendera merah putih dipasang di beberapa sudut lapangan. Kami berdiri di garis start dengan perasaan gugup sekaligus bersemangat.

Ketika peluit dibunyikan, Aku langsung berlari sekuat tenaga dengan penuh semangat membawa tongkat.
Ia berhasil melewati lintasan pertama dan menyerahkan tongkat kepada Raka dengan baik.

Raka kemudian melanjutkan lari, sementara Riko sudah bersiap di tempat pergantian berikutnya.
Saat itu kami masih yakin bisa menang.

Namun, di tengah perlombaan, sesuatu yang tidak kami duga terjadi. Saat Raka berlari menuju pergantian tongkat, tiba-tiba tongkat yang dibawanya terlepas dan jatuh ke lintasan.

Raka segera mengambilnya dan berusaha mengejar ketertinggalan, tetapi kelompok lain sudah berlari cukup jauh di depan. Dengan napas terengah-engah, Raka akhirnya berhasil mencapai Riko dan menyerahkan tongkat itu kepadanya.

Riko langsung berlari sekuat tenaga menuju garis akhir. “Maaf, Riski! Maaf, Riko!” teriak Raka dengan napas yang masih tersengal.

Namun, tidak ada yang menjawab. Riko terus berlari dan berusaha menyelesaikan perlombaan sampai akhir.
Riko terus berlari sekuat tenaga.

Ia mencoba mengejar kelompok lain yang sudah jauh di depan, tetapi jaraknya semakin sulit dikejar. Aku dan Raka hanya bisa memberikan semangat dari belakang.

“Ayo, Riko! Terus!” teriakku.

Riko tidak menjawab dan terus berlari. Sampai akhirnya, Ia berhasil melewati garis akhir.

Kami bertiga terdiam. Kelompok lain sudah lebih dulu selesai dan kami kalah.

Raka menundukkan kepala. Wajahnya terlihat sangat kecewa. Riko masih memegang tongkat estafet sambil mengatur napasnya.

Kami tidak tahu harus berkata apa. Rasanya latihan yang dilakukan selama berhari-hari seperti sia-sia.
Tak lama kemudian, pengumuman pemenang mulai dibacakan.

Nama kelompok kami tentu saja tidak disebut. Raka semakin menunduk. “Maaf,” katanya pelan.

“Kalau tadi tongkatnya nggak jatuh, mungkin kita masih bisa menang,” lanjutnya penuh kesal.
Aku menatap Raka.

Sebenarnya Ia juga kecewa, tetapi melihat wajah Raka membuatnya tidak tega menyalahkannya. “Sudahlah, Ka. Namanya juga lomba. Kita sudah berusaha,” kataku.

Riko ikut mengangguk. “Iya, yang penting kita sudah sampai garis akhir.” Saat kami sedang berbicara, Pak Edo menghampiri. Beliau tersenyum sambil menepuk pundak Raka.

“Kalian memang kalah, tapi Bapak senang melihat kalian tetap menyelesaikan lomba sampai akhir. Tidak ada yang meninggalkan temannya,” kata Pak Edo. Kami bertiga saling memandang. Raka kemudian tersenyum kecil.

“Jadi, nggak apa-apa ya, Pak, kalau kami kalah?”

Pak Edo tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Kalah bukan berarti usaha kalian sia-sia.”

Aku menatap Raka dan Riko. Entah kenapa, mendengar perkataan Pak Edo membuat perasaannya menjadi lebih ringan.

Piala memang bukan milik kami hari itu, tetapi kami masih bertiga seperti sebelum lomba dimulai. Kami bertiga kemudian berjalan pulang bersama.

Tidak ada piala di tangan, hanya tongkat estafet yang tadi kami gunakan. Namun, tidak ada satu pun dari kami yang merasa perlu menyalahkan siapa pun.

Hari itu kami memang tidak memenangkan lomba. Tapi kami belajar sesuatu yang mungkin tidak bisa diberikan oleh sebuah piala, tentang kebersamaan ketika salah satu dari kami melakukan sebuah kesalahan.

Dan sejak saat itu, setiap kali melihat tongkat estafet, kami selalu mengingat perlombaan yang pernah diikuti. Lomba yang tidak kami menangkan, tetapi menjadi salah satu cerita yang paling diingat tentang persahabatan.

 

Penulis: Asmul Khoir

Editor: Achmad Bagas Pranata

Asmul Khair

Asmul Khair

Related Posts

Cahaya Sendiri Meraung Gelap

Cahaya Sendiri Meraung Gelap

16 Oktober 2026
Gerobak Mainan Pak Darto

Gerobak Mainan Pak Darto

11 Oktober 2026
Belenggu Stereotip

Belenggu Stereotip

26 September 2026
Kepala Riuh Sunyi

Kepala Riuh Sunyi

26 September 2026
Tak Sama Tanpamu

Tak Sama Tanpamu

28 April 2026
Rendang

Rendang

11 April 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

  • Tentang Kami
  • Pengurus
  • Kode Etik PPMI
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan

LPM Al Mizan © 2026

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Kampusiana
    • Regional
  • Analisis
    • Esai
    • Opini
    • Review
  • Feature
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
    • Prosa
  • Lensa
  • Gaya Hidup
  • Komik
  • Majalah
  • Buletin
    • Suara Mahasiswa
    • Sastra GIE
    • Srinthil
  • Agenda
  • Media Partner
  • Login
  • Sign Up

LPM Al Mizan © 2026

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In